Suara.com - Stunting alias anak lahir kerdil dan kurus bisa menghambat perkembangan bangsa. Target penuunan angka stunting pun kerap disampaikan setiap tahun. Namun, apakah ini bisa dicapai?
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto mengatakan perlu kerja keras untuk bisa mencapai target penurunan angka stunting seperti yang diinginkan presiden Joko Widodo.
"Kita masih harus bekerja keras dan perlu langkah luar biasa untuk menurunkan kekerdilan hingga 14 persen di tahun 2024 sebagaimana yang tertuang dalam RPJMN 2020-2024," katanya melalui keterangan tertulis di Jakarta.
Agus mengatakan secara nasional prevalensi balita stunting masih sebesar 24,4 persen, underweight sebesar 17 persen dan wasting sebesar 7,1 persen (SSGI, 2021).
Selain itu, kata Agus, Indonesia juga masih memikul beban ganda masalah gizi yaitu masih banyak penduduk yang mengalami kekurangan gizi mikro, makro dan gizi lebih.
Agus mengatakan tantangan untuk meningkatkan status gizi semakin besar mengingat pandemi COVID-19 berpotensi untuk menyebabkan terganggunya kondisi kesehatan, sosial-ekonomi masyarakat serta mempengaruhi pola makan atau asupan makan.
"Dalam upaya pencapaian target tersebut diperlukan dukungan dari semua pemangku kepentingan seperti lintas kementerian/lembaga, mitra pembangunan, profesi, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh masyarakat," katanya.
Agus mengatakan percepatan penurunan kekerdilan ini harus dilaksanakan secara holistik, integratif, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi pemerintah pusat dan daerah serta kepentingan lain termasuk TNI-POLRI.
"Intervensi spesifik dan sensitif harus dapat terimplementasi nyata di lapangan tentunya disertai strategi peningkatan kapasitas SDM dan edukasi baik ditingkat rumah tangga, posyandu, puskesmas dan lokasi lain untuk mendukung upaya perbaikan gizi untuk mencegah kekerdilan," ujarnya.
Baca Juga: Atasi Persoalan Stunting, Hendi Minta Dukungan Tim Penggerak PKK Kota Semarang
Agus mengatakan momentum Hari Gizi Nasional bisa dipakai untuk berbagi dan bergerak bersama memberi perhatian pada remaja, ibu hamil, pasangan usia subur dan calon pengantin.
Berdasarkan data, pasangan usia subur yang bukan peserta KB masih ada sebesar 16.347.800, jumlah ibu hamil sebesar 4.887.405 ibu dan balita kekerdilan sebesar 5,33 juta balita.
"Perlu juga pendampingan khusus untuk daerah dengan jumlah kelompok risiko tinggi di tujuh provinsi prioritas prevalensi kekerdilan tinggi seperti NTT, Sulawesi Barat, Aceh, NTB, Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Selain itu terdapat lima provinsi dengan jumlah absolut yang cukup besar yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten dan Sumatera Utara," katanya.
Dalam memperingati Hari Gizi Nasional ke 62, Agus mengajak seluruh masyarakat ikut bahu membahu perang melawan kekerdilan. Menurutnya, untuk mewujudkan SDM unggul untuk menuju Indonesia Maju, maka kekerdilan harus dientaskan dari Indonesia.
"Kemenko PMK mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bekerjasama dalam memerangi kekerdilan karena masa depan suatu bangsa dan negara terletak kepada kemampuan dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang maju dan berkualitas. Mari wujudkan SDM unggul dalam menyongsong industri 5.0," ujarnya. [ANTARA]
Berita Terkait
-
Stunting Jadi Prioritas, Semarang Intervensi Gizi 78 Ribu Remaja dan Pantau 60 Ribu Balita
-
Putus Rantai Stunting, PAM JAYA Bekali Ibu di Jakarta Edukasi Gizi hingga Ketahanan Air
-
Fraksi PSI Kritik Pemprov DKI: Subsidi Pangan Sulit Diakses, Stunting Masih Tinggi
-
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Gizi, Anemia hingga Obesitas Masih Jadi PR Besar
-
BRI Peduli Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor untuk Tekan Angka Stunting di Indonesia
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga