Suara.com - Pandemi telah menyebabkan kelelahan emosional dan fisik yang substansial akibat berkurangnya staf tenaga kesehatan. Dan dalam rangka Hari Kanker Anak International yang diperingati pada 15 Februari setiap tahunnya, masalah ini haruslah menjadi fokus bagi banyak pihak.
Kathy Pritchard-Jones, Presiden International Society of Pediatric Oncology (SIOP) mengungkap, ketersediaan obat dan pelayanan kanker anak harus terus diperhatikan di tengah sumber daya terbatas.
Sementara Ketua Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), Rahmi Adi Putra Tahir mengakui, pandemi Covid-19 memang membuat program pengadaan obat untuk anak penderita kanker sedikit terhambat.
"Tetapi dengan kondisi yang terbatas, kami tetap harus menjalankan Program YOAI berupa bantuan pengobatan. Meskipun obat-obat untuk kanker anak sudah diganti BPJS, tetapi faktanya beberapa obat-obatan esensial yang sudah terdaftar di Formularium nasional, sulit didapatkan,” jelas Rahmi dalam siaran pers yang Suara.com terima belum lama ini.
Bantuan obat dari YOAI, lanjut Rahmi, biasanya didistribusikan ke rumah-rumah sakit di Jakarta maupun luar Jakarta yang merawat pasien kanker anak.
Beruntung, pada awal tahun ini, YOAI mendapatkan sumbangan pembelian obat dari Prudential dan Bank Mandiri senilai Rp200 juta rupiah.
“Kebutuhan kami untuk pembelian obat selama satu tahun adalah 600 juta rupiah. Kami mengucapkan terima kasih bagi para donatur, semoga anak-anak kanker di seluruh Indonesia, bisa memulai lagi pengobatannya,” harap Rahmi.
Selain program pembelian obat, edukasi, dan pendampingan anak dengan kanker, YOAI juga tengah membangun Graha YOAI yang akan dijadikan Childhood Cancer Support Center atau pusat dukungan untuk anak-anak penderita kanker.
Nantinya Graha YOAI tidak hanya bisa menjadi area rumah singgah untuk anak penderita kanker dari seluruh Indonesia, namun juga menjadi sarana semua kegiatan YOAI beserta pilar-pilarnya, termasuk kegiatan para penyintas.
Baca Juga: Dokter: Terlambat Periksa Hambat Penanganan dan Pengobatan Kanker Anak
Kanker Anak merupakan penyakit tidak menular dan menjadi penyebab nomor satu kematian anak-anak di seluruh dunia.
Sekitar 80 persen anak-anak dengan kanker di negara-negara berpenghasilan tinggi akan bertahan hidup setidaknya 5 tahun setelah diagnosis.
Sayangnya, hanya kurang dari 20 persen anak-anak dengan kanker dari negara-negara berpenghasilan rendah yang berhasil sembuh, Childhood Cancer International (CCI) dengan Inisiatif Global Organisasi Kesehatan Dunia WHO sudah melancarkan berbagai program untuk memerangi kanker anak, sejak September 2018.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan tingkat kelangsungan hidup pendeirta kanker anak secara global hingga setidaknya 60 persen pada tahun 2030, dan menghilangkan rasa sakit dan penderitaan terkait pengobatan.
“Penanggulangan kanker tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, baik institusi kesehatan, dokter maupun para pasien, melainkan harus berkolaborasi dalam sebuah jalinan yang saling bersinergi sehingga menghimpun kekuatan yang dapat mengeliminasi kanker, atau setidaknya bisa mengendalikannya," tambah Rahmi.
Dengan itu, diharapkan beragam upaya ini dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat kanker serta mendukung tercapainya kehidupan pasien dan keluarganya yang lebih berkualitas dan bermakna.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- 7 HP Xiaomi RAM 8 GB Termurah di Februari 2026, Fitur Komplet Mulai Rp1 Jutaan
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
Pilihan
-
Kembali Diperiksa 2,5 Jam, Jokowi Dicecar 10 Pertanyaan Soal Kuliah dan Skripsi
-
Geger! Pemain Timnas Indonesia Dituding Lakukan Kekerasan, Korban Dibanting hingga Dicekik
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
Terkini
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa
-
Olahraga Saat Puasa? Ini Panduan Lengkap dari Ahli untuk Tetap Bugar Tanpa Mengganggu Ibadah
-
Google dan Meta Dituntut Karena Desain Aplikasi Bikin Anak Kecanduan
-
Bergerak dengan Benar, Kunci Hidup Lebih Berkualitas
-
Direkomendasikan Para Dokter, Ini Kandungan Jamtens Tangani Hipertensi dan Kolesterol
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD