Health / Konsultasi
Kamis, 03 Maret 2022 | 18:32 WIB
Ilustrasi kucing (Pixabay/Irina_kukuts)

Suara.com - Untuk pertama kalinya, peneliti dari University of Pennsylvania mendokumentasikan masa pemulihan seekor kucing yang terinfeksi virus corona varian Delta AY.3.

Kucing rumahan berusia 11 tahun itu awalnya diperiksakan ke rumah sakit karena mengalami gejala gastrointestinal, atau pencernaan, yang menganggu.

Satu minggu sebelumnya, sang pemilik positif Covid-19 dan sempat isolasi dari kucing dan anggota keluarga lainnya selama 11 hari.

Sayangnya, beberapa hari kemudian sang kucing mengalami gejala seperti lesu, sulit makan, muntah, dan tinja lunak.

Kondisi sistem kekebalan kucing ini terganggu karena memiliki riwayat dugaan enteropati kronis dan kardiomiopati obstruktif hipertrofik.

Kucing Peliharaan (Foto: Unsplash.com/calvin)

Saat diperiksa, detak jantung, laju pernapasan, dan suhu kucing normal. Tetapi hewan itu menunjukkan ketidaknyamanan saat palpasi perut (teknik pemeriksaan abdomen).

Dokter pun mengambil sampel tinja dan usap tenggorokan untuk mengetes SARS-CoV-2. Kedua sampel menunjukkan kucing tersebut terinfeksi Covid-19.

Ini adalah kasus pertama pada kucing. Sebelumnya, varian tersebut lebih sering menginfeksi manusia dan satu pada anjing domestik, lapor News Medical Life Sciences.

Studi ini memberikan bukti lai bahwa varian Delta dapat menyebar ke hewan dan peringatan bahwa virus berpotensi berkembang di inang non-manusia.

Baca Juga: Kasus Aktif Covid-19 di Bantul Capai Ribuan, Pemkab Izinkan Aktivitas Ekonomi Tanpa Pengetatan

Menurut peneliti, kucing berpotensi menjadi reservoir virus.

“Ini menyoroti kebutuhan untuk melacak dengan cermat varian SARS-CoV-2 pada kucing rumahan untuk lebih memahami sifat antara kesehatan hewan dan manusia dalam pandemi ini," tandas peneliti.

Load More