Suara.com - Ahli Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr Apt Zullies Ikawati memperingatkan risiko kematian saat berhubungan seks jika mengonsumsi kopi kemasan mengandung sildenafil sejenis obat kuat atau viagra.
Fakta ini diungkap Prof. Zullies menyusul berita Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang berhasil menemukan ribuan kopi kemasan ilegal yang diduga mengandung bahan kimia obat (BKO) di Bogor dan Bandung.
Menurut Prof. Zullies, kopi kemasan mengandung obat kuat ini bisa sangat berbahaya bila dikonsumsi orang yang juga mengonsumsi obat hipertensi untuk melebarkan pembuluh darah, karena bisa menyebabkan syok hebat.
"Itu obat (viagra) yang bisa melebarkan pembuluh darah, kalau orangnya menggunakan obat lain, seperti obat hipertensi, maka itu akan kombinasi. Nanti tekanan darah bisa drop, nanti bisa terjadi fase dilatasi atau pelebaran pembuluh darah jadi besar-besaran," ujar Prof. Zullies saat dihubungi suara.com, Sabtu (5/3/2022).
Sehingga Guru Besar Fakultas Farmasi UGM mengaku kerap menemukan fenomena lelaki usia tua yang rentan alami hipertensi, kedapatan meninggal sebelum berhubungan seksual dengan pekerja seksual (PSK), ia menduga lelaki itu tidak kuat menahan efek obat kuat ilegal yang penggunaannya tidak sesuai anjuran dokter.
"Jadi sebenarnya sildenafil atau viagra dan teman-temannya, semuanya adalah obat keras, dan akses atau konsumsinya harus izin dan sesuai resep dokter," jelas Prof. Zullies.
Ia menerangkan, sildenafil yang terkandung dalam viagra pada umumnya adalah obat untuk mengatasi disfungsi seksual seperti disfungsi ereksi atau impotensi pada lelaki, yang sulit menjaga penisnya tetap ereksi saat berhubungan seksual.
"Sildenafil digunakannya juga 30 menit sebelum hubungan seksual, tujuannya meningkatkan fungsi ereksi," tutur Prof. Zullies.
Selain itu Prof. Zullies mengungkapkan, bahwa yang berbahaya dari kopi kemasan yang terkandung viagra atau obat kuat, mengartikan obat tersebut dikonsumsi jangka panjang selaiknya minuman dan makanan, dan bisa berbahaya.
Padahal obat harus diminum dengan durasi dan dosis tertentu, karena sifat obat adalah farmakologi yang bisa punya efek berbahaya jika dikonsumsi terus menerus.
"Karena yang namanya bahan pangan makanan atau minuman itu konteksnya bisa digunakan anytime atau kapanpun. Sementara obat itu ada dosisnya, jadi nggak sesuai, ada efek farmakologinya, ada dosisnya," tutup Prof. Zullies.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Netanyahu Siap Gunakan Bom Nuklir? Eks Kolonel AS Lawrence Wilkerson Bongkar Skenario Kiamat Iran
- 10 Singkatan THR Lucu yang Bikin Ngakak, Bukan Tunjangan Hari Raya!
- 35 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 11 Maret 2026: Klaim MP40, Diamond, dan Sayap Ungu
Pilihan
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
-
Detik-Detik Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
-
Indonesia Beli Rudal Supersonik Brahmos Rp 5,9 Triliun! Terancam Sanksi Donald Trump
-
Kronologi Lengkap Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast Militerisme
Terkini
-
Membangun Benteng Kesehatan Keluarga: Pentingnya Vaksinasi dari Anak hingga Dewasa
-
Pentingnya Dukungan Asupan Nutrisi untuk Mendukung Perkembangan Anak Usia Sekolah
-
Rahasia Mengapa Kepemimpinan Perempuan Jadi Kunci Sukses Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia
-
Siap-Siap Lari Sambil Menjelajahi Pesona Heritage dan Kuliner di Jantung Jawa Tengah
-
Time is Muscle: Pentingnya Respons Cepat saat Nyeri Dada untuk Mencegah Kerusakan Jantung
-
Jaga Gula Darah Seharian, Penderita Diabetes Wajib Atur Pola Makan
-
Menjaga Hidrasi Saat Puasa, Kunci Tetap Bugar di Tengah Aktivitas Ramadan
-
Puasa Ramadan Jadi Tantangan bagi Penderita Diabetes, Begini Cara Mengelolanya
-
Kulit Sensitif dan Rentan Iritasi, Bayi Butuh Perawatan Khusus Sejak Dini
-
Glaukoma Bisa Sebabkan Kebutaan Tanpa Gejala, Ini Hal-Hal yang Perlu Diketahui