Suara.com - Kepribadian narsisme berada dalam spektrum. Karenanya, setiap orang memiliki kepribadian ini dalam 'kadar' yang berbeda dan menunjukkan tanda-tanda yang bervariasi.
Namun, sebanyak 6% dari populasi memiliki karakter ini kepribadian ini dalam bentuk ekstrim hingga didiagnosis gangguan kepribadian narsistik atau NPD.
Orang tua yang memiliki sifat ini dapat memengaruhi anak-anak mereka dengan cara yang buruk. Biasanya, orang tua menunjukkan tingginya kepentingan diri mereka sendiri.
Menurut Insider, berikut tanda orang tua memiliki kepribadian narsistik.
1. Dukungan orang tua terasa bersyarat
Orang narsistik mempunyai rasa mementingkan diri sendiri.
Sebagai orang tua, mereka mungkin memandang anak-anak sebagai cerminan diri mereka sendiri dan ini dapat ditunjukkan dengan kasih sayang dan dukungan. Tetapi ini dilakukan hanya karena orang tua ingin terlihat baik di mata orang lain.
Psikolog Meghan Mercum di AMFM Healthcare mengatakan ini lebih sering dilakukan oleh seorang ibu yang suka menegaskan superioritas mereka.
Bahkan, orang tua narsistik dapat cemburu jika orang lain, termasuk anak-anak mereka, menjadi pusat perhatian.
Baca Juga: Nathalie Holscher Takut Bilang ke Keluarga Mau Mualaf, Sule Pasang Badan Temui Orang Tua Nathalie
2. Orang tua sering mengabaikan emosi anak
Karena seorang narsistik terlalu fokus pada diri sendiri, mereka sering mengabaikan emosi orang lain.
Orang narsistik juga tidak memiliki empati, sehingga mereka kesulitan terhubung dengan emosi orang lain, termasuk perasaan takut, sedih, atau kecewa.
3. Anak meragukan diri sendiri ketika sudah dewasa
Orang tua yang sering mengabaikan emosi anaknya, maka akan menyebabkan adanya keraguan pada diri sang anak ketika tumbuh dewasa.
"Ini terjadi karena tidak adanya lingkungan yang mendukung dan penuh kasih sayang, yang dibutuhkan untuk kesehatan mental," jelas Marcum.
4. Anak selalu merasa harus menjadi versi terbaik ketika berada di sekitar orang tua
Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi sangat kritis terhadap diri sendiri, menghindari konflik, dan merasa mereka harus sempurna setiap saat.
"Ini mengarah pada masalah dengan keterikatan dan pandangan yang terdistorsi secara keseluruhan tentang apa yang khas dan sehat dalam hubungan," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia