Health / Konsultasi
Senin, 04 April 2022 | 13:48 WIB
Ilustrasi virus corona foto: unsplash

Suara.com - Varian baru Covid-19 ditemukan. Kali ini berupa strain rekombinan atau mutasi gabungan genetik antara subvarian Omicron BA.1 dengan BA.2 yang disebut XE. 

Varian tersebut pertama kali ditemukan ilmuwan di Inggris pada Januari 2022. Temuan itu juga telah dikonfirmasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia WHO dan dicatat dalam laporan terkait Covid-19 baru-baru ini.

Omicron XE dipastikan telah menyebar ke berbagai negara. Salah satu yang paling dekat dengan Indonesia, yakni Thailand, telah melaporkan kasus pertama Varian Omicron XE, pada Sabtu (2/4/2022) lalu. 

Temuan kasus dilaporkan oleh Center for Medical Genomics, Rumah Sakit Ramathibodi di Thailand.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Kementerian Kesehatan memastikan bahwa belum ada temuan infeksi Covid-19 akibat varian XE

"Belum (ada kasus varian XE)," kata juru bicara Kemenkes terkait Covid-19 dr. Siti Nadia Tarmidzi kepada Suara.com, Senin (4/4/2022). 

Ia mengatakan varian XE masih menajdi temuan awal di Inggris. Sehingga belum banyak informasi terkait strain varian baru virus corona SARS Cov-2 tersebut.

"Ini baru temuan awal di Inggrris, dari Januari baru dilaporkan ada 600 kasus," ujarnya.

Baca Juga: Update Covid-19 Global: WHO Temukan Varian XE, Paling Menular dari Semua Mutasi Virus Corona

Lantaran menjadi gabungan genetik antara subvarian BA.1 dengan BA.2, Nadia menjelaskan bahwa XE juga masih termasuk bagian dari Omicron.

"Masih bagian Omicron dan masih diperlukan bukti lebih lanjut untuk melihat dampaknya," pungkasnya.

Sejak pertama kali teridentifikasi, kasus XE di Inggris telah mencapai 637 kasus hingga 22 Maret, laporan Badan Keamanan Kesehatan Nasional Inggris (HSA).

Dikutip dari SCMP, penyebaran kasus XE tersebut merata hampir di seluruh Inggris, menunjukkan telah terjadi penularan secara komunitas.

HSA membandingkan kasus XE dengan sampel genom subvarian Omicron BA.2, varian yang masih dominan di Inggris, hasilnya ditemukan bahwa XE 9,8 persen lebih mudah menular. 

Namun, HSA memperingatkan bahwa data itu mungkin saja masih bias pada tahap awal.

Load More