Suara.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin optimistis mudik Lebaran tahun ini tidak akan memicu kenaikan jumlah kasus positif Covid-19. Hal itu berdasarkan fakta tidak ada varian baru Covid-19.
Budi Gunadi yakin, jika memang ada, butuh waktu dua bulan bagi varian baru itu untuk masuk ke Indonesia dari negara asalnya.
“Kita sudah amati, penyebab kenaikan tinggi kasus Covid-19 bukan Hari Raya (Lebaran) tapi adanya varian baru. Sampai sekarang tidak ada varian baru yang mengkhawatirkan,” kata Budi Gunadi Sadikin dalam keterangannya, Rabu, (6/4/2022).
Sejauh ini varian terbaru yang telah dideteksi di invonesia ialah BA 2. Oleh sebab itu, Menkes optimistis tidak ada varian baru Covid-19 pada Lebaran tahun ini.
“Saya yakin tidak akan ada lonjakan kasus. Tapi kita harus berdoa agar tidak ada varian baru lagi,” jelas Menkes.
Sebelumnya, Pemerintah terus melonggarkan sejumlah kegiatan seiring turunnya kasus Covid-19. Presiden Joko Widodo mengatakan mudik pada lebaran tahun ini akan diperbolehkan dengan syarat vaksinasi. Jokowi mengatakan mereka yang ingin pulang ke kampung halaman harus terlebih dulu menjalani vaksinasi primer dua kali dan satu kali booster.
“Saya minta protokol kesehatan tetap jalan,tetap pakai masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak,” kata Jokowi.
Menkes menambahkan, belum bisa dipastikan kapan endemi akan terjadi di Indonesia. Namun, kata Budi Gunadi, hampir bisa dipastikan semua pandemi akan beralih menjadi pandemi, termasuk pandemi Covid-19.
Karena itu, pemerintah akan terus menggenjot vaksinasi dosis kedua di masyarakat. Pemerintah menargetkan 70 persen masyarakat sudah menerima vaksinasi dosis kedua pada April atau Mei.
Baca Juga: DPR: Pemerintah Perlu Antisipasi Lonjakan Arus Mudik Jelang Lebaran
“WHO menargetkan vaksinasi dosisi kedua di seluruh dunia sudah mencapai 70 persen pada Juni, kita menargetkan lebih cepat lagi yaitu antara April atau Mei. Saat ini, baru 159 juta orang yang sudah melakukan vaksinasi dosis kedua yang artinya masih kurang 30 juta orang lagi untuk bisa mencapai angka 70 persen,” jelas Budi.
Selain vaksinasi, pemerintah juga akan terus meningkatkan testing. Namun, testing yang harus dilakukan adalah kepada mereka yang suspect atau melakukan kontak erat.
“Jadi kalau ada yang ingin melakukan pertemuan lalu tes PCR, itu namanya screening bukan testing. Karena testing yang benar di mata epidemiolog itu adalah mereka yang suspect atau melakukan kontak erat dengan pasien yang positif,” jelas Budi.
Budi menambahkan, pemerintah Indonesia akan membawa masalah arsitektur sistem kesehatan dunia pada Presidensi KTT G20. Kata dia, pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran bahwa sistem kesehatan dunia harus diperkuat lagi.
Salah satu usulan yang akan disampaikan dalam KTT G20 nanti, kata Budi, adalah membentuk dana khusus untuk sektor kesehatan dunia. Seperti Dana Moneter Internasional yang memberikan bantuan kepada negara-negara yang mengalami krisis finansial atau moneter.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya