Suara.com - Beberapa minggu belakangan, berita mengenai suhu bumi yang kian memanas semakin santer. Hal tersebut pun juga dirasakan di Indonesia. Dan kabar buruknya, ketika iklim di Bumi terus menghangat, manusia berpotensi menghadapi pandemi baru.
Mengutip Science Daily, menurut para peneliti, hewan liar akan terpaksa merelokasi habitat mereka saat suhu Bumi kian panas - kemungkinan ke daerah dengan populasi manusia yang besar. Hal ini dapat meningkatkan risiko lompatan virus ke manusia yang dapat menyebabkan pandemi berikutnya.
Hubungan antara perubahan iklim dan penularan virus ini dijelaskan oleh tim peneliti internasional yang dipimpin oleh para ilmuwan di Universitas Georgetown, dan diterbitkan pada 28 April di Jurnal Nature.
Dalam studi mereka, para ilmuwan melakukan penilaian komprehensif pertama tentang bagaimana perubahan iklim akan merestrukturisasi virom mamalia global. Pekerjaan ini berfokus pada pergeseran jangkauan geografis, yaitu perjalanan yang akan dilakukan spesies saat mereka mengikuti habitat mereka ke daerah baru. Saat mereka bertemu mamalia lain untuk pertama kalinya, studi memproyeksikan mereka akan berbagi ribuan virus.
Pergeseran ini pun akan membawa peluang lebih besar bagi virus seperti Ebola atau virus corona untuk muncul di daerah baru, membuatnya lebih sulit dilacak, dan menjadi jenis varian baru, sehingga memudahkan virus untuk 'meloncat' ke manusia.
"Analogi terdekat sebenarnya adalah risiko yang kita lihat dalam perdagangan satwa liar," kata penulis utama studi, Colin Carlson, PhD, asisten profesor peneliti di Pusat Ilmu dan Keamanan Kesehatan Global di Georgetown University Medical Center.
“Pasar ini menyatukan hewan yang tidak sehat dalam kombinasi yang tidak alami, menciptakan peluang bagi SARS melompat dari kelelawar ke musang, lalu musang ke manusia. Tetapi dalam iklim yang berubah, proses semacam itu kini terjadi di mana-mana," katanya.
Para peneliti juga menemukan dampak kenaikan suhu pada kelelawar, yang merupakan mayoritas penyebaran virus baru. Kemampuan mereka untuk terbang akan memungkinkan mereka melakukan perjalanan jarak jauh, dan menyebarkan virus paling banyak. Karena peran sentral mereka dalam kemunculan virus, dampak terbesar diproyeksikan terjadi di Asia Tenggara, hotspot global keanekaragaman kelelawar.
Ketika virus mulai berpindah antar spesies inang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, para peneliti mengatakan bahwa dampaknya terhadap kesehatan manusia bisa sangat parah.
“Pandemi Covid-19, dan penyebaran SARS, Ebola, dan Zika sebelumnya, menunjukkan bagaimana virus yang melompat dari hewan ke manusia dapat memiliki efek yang sangat besar. Untuk memprediksi loncatannya ke manusia, kita perlu mengetahui penyebarannya di antara hewan lain," kata Sam Scheiner, direktur program di National Science Foundation (NSF) AS, yang mendanai penelitian tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- Harga Beda Tipis: Mending Yamaha Gear Ultima, FreeGo atau X-Ride untuk Rumah Tangga?
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak