Suara.com - Sebelum menyerang Eropa dan Amerika Serikat, ternyata wabah cacar monyet telah menyebabkan masalah lebih dulu di benua Afrika.
"Selama pandemi ini, kami mengalami beberapa wabah cacar monyet di benua Afrika. Kami memperkirakan wabah lain akan muncul dan kami akan menanganinya dengan cara yang biasa," kata Pelaksana Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika Ahmed Ogwell Ouma dikutip dari ANTARA.
Beberapa kasus virus penyebab demam dan bintil berair itu telah dilaporkan atau dicurigai di Inggris, Portugal, Spanyol, dan AS.
Penyakit tersebut, yang menyebar melalui kontak dekat dan pertama kali ditemukan pada monyet, sebagian besar terjadi di Afrika barat dan tengah dan jarang menyebar di tempat lain.
Ouma mengatakan bahwa sejak 2020 wabah telah terlihat dan terkendali di Republik Demokratik Kongo, Nigeria, Kamerun, dan Republik Afrika Tengah.
"Namun kami prihatin beberapa negara di luar, terutama di Eropa, yang mengalami wabah cacar monyet ini. Akan sangat berguna untuk berbagi pengetahuan mengenai apa sebenarnya sumber wabah ini," kata dia.
"Kami berhubungan dekat dengan rekan-rekan kami di CDC Eropa untuk mencoba dan memahami dari mana asalnya karena ketika Anda melihat cacar monyet di lingkungan yang jauh dari kawasan hutan, maka sejauh menyangkut kesehatan masyarakat, pasti hal itu menimbulkan banyak pertanyaan."
Berita Terkait
-
Waspada! Wabah Mpox di Afrika Tidak Terkendali, 1.100 Orang Tewas
-
Waspada! Cacar Monyet Melonjak di Australia, Total 737 Kasus
-
Monkeypox Merebak di Afrika, Apa Vaksin Mpox Aman untuk Anak?
-
Jumlah Kasus Cacar Monyet di Filipina Naik, Menteri Kesehatan Bilang Begini
-
5 Pertanyaan Seputar Vaksin Mpox: Bisa Dapat di Mana dan Untuk Siapa?
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Tragedi di Stasiun Bekasi Timur: 3 Penumpang KRL Tewas dan 38 Korban Luka-luka Dilarikan ke 4 RS
-
KAI Fokus Evakuasi dan Normalisasi Jalur Pasca KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi Timur
-
Tabrakan Hebat di Stasiun Bekasi Timur: KRL vs Argo Bromo Anggrek, Jeritan Penumpang Pecah!
-
Rekam Jejak Jenderal Dudung Abdurachman: Dari Pencopot Baliho Kini Jadi Tangan Kanan Presiden
-
Reshuffle Kabinet: Qodari Geser dari KSP ke Bakom, Dudung Ambil Alih Peran Strategis di Istana
Terkini
-
Konsultasi Kesehatan Pakai AI? Waspada Halusinasi Medis yang Berbahaya
-
Menyeimbangkan Karier dan Anak, Daycare Berkualitas Jadi Kunci Dukungan untuk Ibu Bekerja
-
Tidak Perlu Keluar Rumah, Pesan Obat di Apotek K-24 Kini Bisa Lewat BRImo
-
Diskon 20 Persen Medical Check-Up di RS Siloam: Tanpa Batas Maksimal untuk Nasabah BRI!
-
Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas
-
Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak
-
Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik
-
Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks
-
Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin
-
Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala