Suara.com - Diare menjadi penyakit yang kerap menyerang anak-anak. Meski jarang mematikan, anak bisa mengalami lemas, dehidrasi, hingga sakit perut akibat diare.
Gejala umum diare antara lain buang air besar terus-menerus, perut mulat, hingga mual dan muntah. Pengobatan diare bisa dilakukan dengan obat yang dijual bebas.
Namun daripada mengobati, alangkah baiknya jika diare bisa dicegah. Untuk itu, orangtua perlu mengajarkan cara mencegah diare pada anak sejak dini. Bagaimana caranya?
1. Cuci tangan pakai sabun
Mengutip Hello Sehat, cuci tangan pakai sabun adalah cara paling utama untuk mencegah penyebaran kuman penyebab diare. Mencuci tangan harus dilakukan sesering mungkin agar terhindar dari diare.
Cuci tanganlah dengan sabun di bawah air mengalir selama 20 detik. Pastikan Anda menggosok setiap sela-sela jari dan celah di balik kuku, kemudian bilar dengan air mengalir hingga bersih. Keringkan tangan dengan tisu atau handuk bersih.
2. Hindari jajan sembarangan
Hindari jajan sembarangan untuk mencegah Anda dan keluarga dari diare karena makanan yang dijual di di pinggir jalan tidak terjamin kebersihannya.
Makanan dan minuman yang diolah dan dijajakan di tempat terbuka rentan terkontaminasi dari kuman lingkungan. Beberapa di antaranya seperti E.coli, Salmonella, Listeria, Campylobacter, dan Clostridium perfringens tidak cuma menyebabkan diare, tapi juga bisa memicu keracunan makanan dan bahkan tipes. Itulah kenapa sering jajan sembarangan bikin kita gampang sakit.
Baca Juga: Kenali 3 Khasiat Penting Minum Teh Buah Kawista bagi Kesehatan
3. Masak dengan sehat dan aman
Cara menyiapkan, mengolah, dan menyajikan makanan yang tidak tepat dapat menyebabkan gangguan pencernaan karena bakteri bisa mengontaminasi bahan makanan Anda lewat berbagai cara.
Ambil contoh, sayuran atau buah yang setelah dipanen mungkin masih ditempeli oleh sisa-sisa tanah atau kotoran lain yang tercemar kuman. Belum lagi bila tempat penyimpanannya tidak bersih, proses produksi tidak terkontrol dengan baik, atau bila pembersihannya menggunakan air yang terkontaminasi.
Bila makanan tersebut tidak dicuci dengan benar, bakteri tetap dapat menempel. Jadi, tindakan pencegahan diare yang tepat dalam hal ini adalah mencuci makanan dengan benar. Bila perlu kupas habis kulit sayuran atau buah yang terpapar tanah.
4. Tidak memaksakan diri berenang
Meski terdengar aneh, ternyata berenang juga bisa menyebabkan diare. Kondisi ini terjadi akibat Anda atau si kecil menelan air kolam yang terkontaminasi bakteri.
Bakteri penyebab diare bercampur dengan air kolam ketika orang yang terinfeksi tidak membersihkan dirinya dengan benar setelah buang air besar. CDC melaporkan bahwa bakteri penyebab diare, seperti Cryptosporidium sp. dan Giardia dapat bertahan selama 45 menit di air kolam yang sudah diberi klorin.
5. Perbanyak konsumsi probiotik
Seperti yang telah diketahui, salah satu penyebab diare yang paling umum adalah infeksi bakteri seperti E.Coli. Dengan menambah asupannya melalui konsumsi makanan yang berprobiotik seperti yogurt, tempe, atau kimchi, akan bertambah bakteri baik yang akan membantu kerja sistem pencernaan. Bahkan, makanan ini bisa menjadi tindakan pencegahan diare yang disebabkan oleh pemakaian antibiotik.
Fungsi utama probiotik adalah menjaga kesiembangan bakteri baik dalam perut sehingga membuat tubuh tetap netral. Ketika Anda sakit, bakteri jahat yang masuk ke dalam tubuh akan bertambah jumlahnya. Pada saat itulah bakteri baik bekerja, untuk melawan bakteri dan mengembalikan keseimbangan tubuh.
Berita Terkait
-
Tim UGM Temukan Penyakit Kulit dan Diare Dominasi Korban Bencana Sumatra
-
Jangan Anggap Remeh! Diare dan Nyeri Perut Bisa Jadi Tanda Awal Penyakit Kronis yang Mengancam Jiwa
-
Misteri Diare Massal Hostel Canggu: 6 Turis Asing Tumbang, 1 Tewas Mengenaskan
-
Akses Air Bersih dan Sanitasi Sekolah yang Minim Jadi Ancaman Buat Kesehatan Anak
-
Baru Akan Masuk Asrama, 5 Calon Haji di NTB Malah Diare Karena Nasi Kotak
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia