Suara.com - Penyandang disabilitas perkembangan kerap tidak dapat menerima layanan medis tepat waktu karena kesulitan mengungkapkan gejala sakit yang mereka derita.
Penyandang disabilitas perkembangan atau developmental disability sendiri merupakan gangguan kompleks yang menyebabkan gangguan fisik, disabilitas intelektual, gangguan bicara, dan kondisi medis tertentu.
Disabilitas perkembangan terkadang dapat didiagnosis saat lahir, tetapi akan lebih teridentifikasi saat anak menginjak usia tiga hingga enam tahun.
Contoh dan jenis disabilitas perkembangan di antaranya autisme, cerebral palsy, kelainan kromosom seperti trisomi, sindroma down, hingga tourette syndrome dan velocardiofacial syndrome.
Menurut Psikolog dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Tri Puspitarini, ada lima masalah yang berisiko dihadapi oleh anak penyandang disabilitas perkembangan.
Kelima masalah itu adalah masalah masalah akademik, konsep diri negatif, masalah keluarga dan keuangan, masalah komunikasi dan pergaulan, serta masalah akses pelayanan kesehatan.
"Anak biasanya mengalami masalah akademik, dicap autis, bodoh, pengganggu, pembullyan kata-kata, perundungan fisik, dan penolakan," kata Tri Puspitarini dalam acara Daewoong Developmental Disability, beberapa waktu lalu.
Untuk membantu meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas perkembangan di Indonesia, Daewoong memperkenalkan kampanye ‘Say Pain!’, sebuah kampanye CSR yang telah sukses di Korea.
Saat ini Daewoong Pharmaceutical memproduksi buku bergambar Augmentative and Alternative Communication (AAC) yang dapat membantu anak lamban belajar mengungkapkan gejala penyakit secara akurat kepada staf medis atau pendampingnya.
Di Korea Selatan, buku tersebut distribusikan secara gratis ke 583 rumah sakit, klinik, sekolah khusus, dan pusat kesejahteraan.
Daewoong akan mempublikasikan isu penyandang disabilitas perkembangan di Indonesia dan mengembangkan buku bergambar AAC yang disesuaikan dengan bahasa dan budaya Indonesia.
Selain berkolaborasi dengan organisasi dan pakar terkait di Korea dan Indonesia, proyek ‘Say Pain!’ akan bekerja sama dengan mahasiswa Indonesia yang tertarik dengan isu-isu sosial lewat program bertajuk Daewoong Social Impactor angakatan ke-2.
Daewoong Social Impactors angkatan ke-2, yang dipilih melalui tingkat persaingan ketat 14 banding 1, akan mengangkat agenda sosial untuk meningkatkan lingkungan medis penyandang disabilitas perkembangan dan mencari solusi dengan pakar lokal, selama lima bulan mulai bulan Juni.
"Kami selalu mencari kontribusi sosial untuk membantu masyarakat Indonesia”, menambahkan “Saya ingin memberikan apresiasi kepada Daewoong Social Impactor angkatan kedua, yang akan memimpin kampanye Say Pain! di Indonesia," CEO Daewoong Pharmaceutical Company Indonesia, Sengho Jeon.
Tahun ini, 20 finalis terpilih sebagai 2nd Daewoong Social Impactor, melalui penyaringan dokumen dan wawancara online, yanga akan mendapatkan beasiswa senilai Rp7,8 juta per orang dan “Starter Pack” yang dibutuhkan untuk kegiatan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 7 Tablet Rp2 Jutaan SIM Card Pengganti Laptop, Spek Tinggi Cocok Buat Editing Video
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan