Suara.com - Peneliti telah menemukan obat eksperimental, bernama Dostarlimab, yang diklaim mampu menghilangkan tumor di anus.
Ini adalah percobaan obat kanker anus pertama, di mana hampir setiap pasien memasuki masa remisi sel kanker, dan dianggap jadi awal yang baik.
Apalagi, peneliti yakin tidak ditemukan adanya efek samping signifikan saat obat digunakan.
"Saya percaya ini adalah pertama kalinya terjadi dalam sejarah pengobatan kanker," ujar salah satu pemimpin percobaan obat, Dr. Luis Alberto Diaz, Jr. mengutip Live Science, Selasa (7/6/2022).
Meski begitu dokter yang juga Ahli Onkologi di Pusat Kanker Memorial Sloan Kettering (MSK), masih menerima kritik bahwa obat ini masih terlalu awal untuk disimpulkan mampu mengurangi sel kanker dari jenis kanker anus.
"Tapi obat ini bisa meningkatkan optimisme yang tinggi," ujar seorang ahli.
Percobaan kecil ini dilakukan di Pusat Kanker MSK di New York City, dan diterbitkan di New England Journal of Medicine pada Minggu, 5 Juni 2022.
Diketahui ada lima hingga 10 persen pasien kanker yang sel kankernya tetap resisten terhadap terapi kemoterapi dan radiasi, yang artinya harus menjalani operasi proktektomi, yakni operasi memotong sebagian sel tubuh yang terkena kanker.
Tapi dampak dari operasi ini bisa menyebabkan kerusakan saraf permanen, disfungsi usus, kemih dan gangguan seksual. Nah, ujicoba obat ini dibuat agar risiko operasi ini bisa dihindari pada pasien kanker anus.
Baca Juga: Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Inovasi FEMICAM
Obat Dostarlimab ini bekerja dengan cara meningkatkan kemampuan sel kekebalan tubuh untuk menemukan dan menyerang sel kanker.
Dalam percobaan, peserta menerima 500 miligram Dostarlimab setiap tiga minggu selama enam bulan.
Harapannya setelah perawatan ini, sebagian besar pasien masih perlu menjalani kombinasi pengobatan standar yakni kemoterapi, terapi radiasi, dan kemungkinan pembedahan.
Tapi menariknya, semua kanker pada 12 pasien benar-benar sembuh dengan dostarlimab saja. Tumor pasien tidak lagi terdeteksi saat pemeriksaan fisik, endoskopi, PET dan scan MRI.
Bahkan dalam laporan disebutkan setahun kemudian, tidak ada pasien yang membutuhkan perawatan lebih lanjut dan tidak ada kanker yang tumbuh kembali.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?