Suara.com - Betapapun memprihatinkannya segala bentuk gangguan makan, sulit bagi orang tua untuk mengenalinya, terutama ketika seorang anak kecil atau remaja sedang berjuang dengannya.
Orang tua mungkin sering tidak curiga sampai mencapai tahap berbahaya. Banyak yang bahkan mengabaikannya sebagai "fase" dalam kehidupan seorang anak. Namun, hal itu hanya akan membahayakan anak Anda lebih jauh.
Gangguan makan bukan hanya satu kondisi, melainkan serangkaian kondisi psikologis yang dapat menyebabkan kebiasaan makan yang buruk. Awalnya seseorang mungkin mengembangkan obsesi terhadap makanan, berat badan dan bentuk tubuh seseorang, yang dapat menyebabkan mereka mengubah perilaku makan mereka.
Ada banyak jenis gangguan makan. Ini termasuk:
Anoreksia
Orang yang menderita anoreksia terobsesi untuk menjadi kurus dan berusaha keras untuk menjaga berat badan agar tidak bertambah.
Bulimia adalah suatu kondisi, di mana orang cenderung makan banyak dan kemudian mengambil tindakan untuk menghilangkan kalori yang baru saja mereka konsumsi. Ini bisa membuat mereka sangat sakit.
Binge eating disorder (BED)
Baca Juga: Sehari Habiskan 100 Kilogram Tulang Iga, Warung Mi Kocok Sederhana Ini Kerap Diserbu Pembeli
Ini adalah gangguan di mana orang sering makan berlebihan dengan makanan yang tidak sehat, bahkan ketika mereka tidak lapar.
Gangguan makan yang tidak ditentukan (EDNOS)
Disebut juga gangguan makan atipikal, gangguan makan yang tidak ditentukan lain adalah klasifikasi gangguan makan untuk orang yang tidak termasuk dalam kriteria diagnostik untuk gangguan makan lainnya.
Tergantung pada jenis gangguan makan yang diderita anak Anda, gejala gangguan makan dapat bervariasi. Beberapa gejala fisik antara lain:
- Kenaikan atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
- Kelelahan dan kelelahan
- Masalah gastrointestinal
- Pusing atau merasa pusing
- Dingin
- Infeksi mulut
- Memar dan bekas luka di jari, buku jari, dll.
- Napas berbau tidak sedap
Remaja muda atau anak-anak yang menderita gangguan makan juga dapat mengalami gejala psikologis termasuk:
- Obsesi pada penampilan
- Harga diri dan kepercayaan diri rendah
- Mengekspresikan rasa bersalah setelah makan
- Stres, kecemasan dan kemarahan
- Serangan panik
- Perubahan suasana hati yang ekstrem
- Menyakiti diri sendiri dan pikiran untuk bunuh diri
Berbicara dengan anak-anak tentang gangguan makan mungkin lebih sulit daripada yang Anda pikirkan. Ini bukan percakapan yang sama yang Anda lakukan dengan anak-anak Anda tentang pubertas atau menstruasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak
-
Cuma 30 Menit, Ini Rahasia Bonding Berkualitas di Tengah Kesibukan Orang Tua
-
Cacar Api Mengintai Diam-Diam: Kelompok Rentan Bisa Alami Komplikasi Lebih Berat
-
Kata 'Capek' Sering Dianggap Sepele Mahasiswa, Padahal Sinyal Distress Mental?
-
Cara Ibu Modern Menghadirkan Kenyamanan di Rumah: Perhatian Tulus hingga Kelembutan Plenty