Suara.com - Tertidur ketika sedang menonton TV kemungkinan sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Tapi tahukah bahwa kebiasaan tidur dengan TV masih menyala justru tidak baik untuk kesehatan?
Ilmuwan dari Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern meneliti dampak cahaya di lingkungan sekitar terhadap kesehatan serta kebiasaan tidur 552 orang berusia 63 hingga 84 tahun.
Studi menemukan bahwa peserta studi yang tidur dengan ambient lighting menyala sekecil apa pun lebih berisiko mengidap diabetes, obesitas, dan hipertensi, lapor New York Post.
Data menunjukkan 17,8 persen peserta penelitian yang tidur dengan adanya paparan cahaya menderita diabetes dibanding 9,8 persen mereka yang tidur dalam gelap gulita.
Tak hanya itu, 40,7 persen peserta yang tidur dengan ambient lighting mengalami obesitas, sementara yang tidur dalam gelap hanya 26,7 persen.
Ambient lighting merupakan pencahayaan umum yang dapat menerangi keseluruhan ruangan.
Menurut penelitian, resistensi insulin lebih mungkin terjadi di pagi hari setelah orang tidur di ruangan dengan pencahayaan redup, seperti yang dipancarkan oleh TV.
Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel di otot, lemak dan hati tidak merespons insulin dengan baik. Umumnya kondisi ini dikaitkan dengan diabetes tipe 2, hipertensi dan penyakit kardiovaskular (jantung).
Peserta studi yang terpapar ambient lighting juga lebih mungkin terjaga dan tidur dini hari.
Baca Juga: Cegah Masalah Kesehatan Mata, Matikan TV dan Ponsel 2 Jam sebelum Tidur
"Kami tahu bahwa orang yang tidur larut malam cenderung berisiko lebih tinggi terkena gangguan kardiovaskular dan metabolisme," kata peneliti utama studi, Phyllis Zee.
Sebenarnya, ini tidak hanya berlaku untuk cahaya dari TV saja. tetapi juga dari smarthphone atau gadget lain yang tetap menyala selama seseorang tidur.
"Orang-orang harus menghindari atau meminimalkan jumlah cahaya yang mereka terima saat tidur," tandas Zee.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!