Suara.com - Jadi orang tua bayi itu sulit, lho. Kalau terjadi sesuatu pada si bayi, orang tualah yang pertama kali akan disalahkan oleh lingkungan di sekitarnya. Tindakan ini disebut sebagai blaming culture, yang sangat dilarang oleh dokter spesialis anak.
Dikatakan dr. Lucky Yogasatria, Sp.A, masyarakat sudah saatnya berhenti menyalahkan orang tua atas segala hal yang terjadi pada bayi.
"Jika anaknya kembung, ibunya akan disalahkan dengan argumen 'Ah ASI-nya jelek nih', anaknya jarang BAB akan dibilang Iibunya nih pasti makannya yang aneh aneh', anaknya ileran 'Ibunya nih ngidam nggak diturutin'. Semua hal yang terjadi pada bayi, ibu akan disalahkan oleh masyarakat," ujar dr. Lucky melalui konten instagramnya dikutip suara.com, Selasa (5/7/2022).
Menurutnya, melakukan blaming culture ini sama sekali tidak bermanfaat. Selain tidak menyelesaikan masalah, tindakan ini hanya akan menyebabkan orang tua, terutama ibu menjadi depresi.
"Maka dari situlah pentingnya bertemu dokter spesialisasi anak, jika terjadi masalah ya nanti akan diperbaiki, bukannya disalah-salahkan," jelasnya.
Ia juga menyarankan agar para anggota keluarga lain yang belum paham sebaiknya dibawa ke dokter spesialis anak, untuk diedukasi secara langsung.
"Silakan bawa saja neneknya, kakeknya, mertuanya ataupun tetangganya biar sekalian diberikan edukasi oleh dokter anaknya," tutup dr. Lucky.
Sementara itu, seorang ibu rentan mengalami depresi setelah melahirkan. Ini karena perasaan gugup dan sedikit cemas kerap dialami ibu sebelum melahirkan, terutama bila pertama kali menjadi ibu.
Adapun kebahagiaan ibu pascapersalinan bisa datang bersamaan dengan rasa sedih, sehingga berpengaruh pada perubahan suasana hati yang cepat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026