Suara.com - Banyak orang tua memberi anak-anak mereka sebuah gadget agar tetap tenang. Namun, kebiasaan ini justru bisa menyebabkan konsekuensi buruk, seperti yang dialami oleh anak asal Malaysia ini.
Sang ibu, Nurul Afeizah (28), tidak menyangka mata anak pertamanya yang masih berusia lima tahun akan juling akibat kebiasaan menggunakan ponsel pintar.
Anak bernama Luth Harraz Mohamad Fazrin tersebut sudah terpapar gadget sejak usia dua tahun.
"Luth normal seperti anak-anak lain sejak lahir. Tapi karena PPKM, kebanyakan dia di rumah... jadi dia hanya bermain ponsel dan menonton TV," kata Nurul asal Ipoh, Malaysia, dilansir mstar.
Tujuan pemberian gadget kepada Luth adalah agar sang anak tidak menganggu dirinya dan sang suami yang bekerja di rumah.
"Suami saya dan saya terlalu sibuk mencari uang saat itu, jadi kami mengabaikan anak itu... dan itulah efeknya pada Luth," sambung Nurul.
Awalnya, Nurul mengira putranya bercanda dengan menunjukkan mata juling kepadanya.
"Ini dimulai tahun lali, tetapi saya tidak menyadari karena saya pikir Luth hanya bercanda. Saat itu, dia selalu marah, karenanya dia menunjukkan mata juling," lanjutnya.
Ketika Luth datang ke rumah neneknya, banyak saudara yang menegur Nurul tentang kondisi mata juling putranya. Ia pun menjadi tidak nyaman karena banyak yang memperingatkannya.
Baca Juga: Beli Pertalite Pakai Ponsel Bikin Ribet, Pengamat Usul Alternatif Murah dan Mudah
Hingga ketika Luth mulai masuk sekolah, kondisi mata julingnya bertambah parah. Bahkan, kornea matanya bisa menghilang ke belakang.
Akhirnya, Nurul membawa putranya ke dokter.
"Dokter juga menyatakan kalau tidak diobati dari awalm maka akan tetap juling. jadi, pengobatannya dimulai awal Januari," tambahnya.
Luth pun dirujuk ke Kuala Lumpur untuk operasi. Namun, dokter sudah mengatakan bahwa kondisi Luth tidak akan kembali 100 persen.
"Meski sudah diberi tahu (kondisinya) tidak akan sembuh 100 persen seperti semula, tapi saya bersyukur mata Luth masih bisa diobati. Tapi Luth harus selalu memakai kacamata saat menonton TV atau belajar selama tiga tahun," tandas Nurul.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik