Suara.com - oleh Michelle Roberts, Wartawan urusan kesehatan
Terapi kanker jenis baru yang menggunakan virus untuk menginfeksi dan menghancurkan sel-sel berbahaya menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam percobaan awal, kata para ilmuwan Inggris.
Kanker pada satu pasien hilang, sementara pada pasien lain, tumornya menyusut.
Obat yang digunakan adalah virus herpes simpleks yang dilemahkan dan dimodifikasi untuk membunuh tumor.
Masih diperlukan studi yang lebih luas dan lama untuk kajian lebih lanjut, namun para pakar mengatakan injeksi virus ini dapat memberikan harapan bagi pasien dengan kanker stadium lanjut.
Krzysztof Wojkowski, seorang pria berusia 39 tahun dari London barat, adalah salah satu pasien yang ambil bagian dalam percobaan fase pertama, diselenggarakan oleh Institute of Cancer Research dan Royal Marsden NHS Foundation Trust.
Ia didiagnosis dengan kanker kelenjar ludah di dekat mulutnya pada 2017. Pria yang bekerja di bidang konstruksi bangunan itu sudah dioperasi dan menjalani berbagai pengobatan, namun kankernya terus tumbuh.
"Saya diberi tahu bahwa tidak ada lagi pilihan bagi saya dan saya mendapat perawatan untuk hidup tahap akhir. Rasanya hancur hidup saya, jadi ketika saya mendapat kesempatan ikut dalam uji coba ini, sangat luar biasa," katanya.
"Saya mendapat injeksi setiap dua minggu selama lima minggu yang secara total mematikan kanker. Dalam dua tahun ini, saya bebas kanker," tambahnya.
Baca Juga: Uji Coba Kedua Gagal, Terapi Kanker Roche Diragukan
Obat disuntikkan langsung ke tumor, menyerang kanker dengan dua cara – menyerang dan memecah sel kanker, serta mengaktifkan sistem kekebalan tubuh.
Sekitar 40 pasien mencoba perawatan ini sebagai bagian dari uji klinis.
Sebagian mendapat suntikan virus yang disebut RP2. Yang lain mendapat tambahan obat kanker lain yang disebut nivolumab.
Temuan yang dipaparkan dalam konferensi kedokteran di Paris, Prancis menunjukkan:
- Tiga dari sembilan pasien yang hanya diberikan RP2 saja, termasuk Krzysztof, mengalami penyusutan tumor
- Terdapat efek samping seperti kelelahan, tetapi umumnya ringan
- Tujuh dari 30 orang yang mendapatkan injeksi dan obat kanker tambahan juga menunjukkan kemajuan
Ketua peneliti Prof Kevin Harrington mengatakan kepada BBC hasil tersebut “sangat impresif” bagi sejumlah pasien kanker dengan stadium lanjut, termasuk kerongkongan (oesophagus) dan jenis kanker mata yang langka.
“Sangat jarang kami melihat hasil yang begitu bagus dalam tahap awal uji klinis, karena tujuan utama uji pengobatan ini ialah keamanan dan pengobatan ini melibatkan pasien dengan stadium kanker yang sangat lanjut, di mana pengobatan yang biasa dilakukan tidak lagi menunjukkan hasil,” kata Harrington.
“Saya ingin melihat manfaat seperti apa yang dirasakan bila kami menambah lagi jumlah pasien.”
Pengobatan ini bukan pertama pertama kalinya para ilmuwan menggunakan virus untuk memerangi kanker.
Layanan kesehatan Inggris, National Health Service, menggunakan terapi serupa yang disebut T-Vec, untuk pasien kanker kulit stadium lanjut, beberapa tahun lalu.
Prof Harrington menyebut RP2 adalah versi yang disempurnakan dari T-Vec.
“Virus ini dimodifikasi lebih lanjut sehingga ketika masuk ke dalam sel kanker, virus tersebut secara efektif mematikan sel kanker.”
Dr Marianne Baker, dari Cancer Research, Inggris mengatakan temuan yang menggembirakan itu dapat mengubah arah pengobatan kanker.
Para ilmuwan sudah menemukan bahwa virus dapat membantu mengobati kanker 100 tahun yang lalu, namun memastikan keamanan dan keefektifannya adalah tantangan tersendiri.
"Uji coba skala kecil terapi virus ini memberikan harapan, dan kami perlu studi lebih banyak untuk mengetahui bagaimana virus ini dapat digunakan secara ampuh,” kata Baker.
Berita Terkait
-
Bukan Cuma Rokok, Ini Alasan Kanker Paru Masih Sulit Ditangani di Indonesia
-
Inovasi Terapi Kanker Kian Maju, Deteksi Dini dan Pengobatan Personal Jadi Kunci
-
Mengenal Teknologi Nuklir untuk Deteksi Kanker di Tubuh, Ini Cara Kerjanya!
-
Bagaimana Cara Pasien Kanker Terlindung Secara Optimal dari COVID-19?
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak
-
Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol