Suara.com - 12 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pneumonia Sedunia atau World Pneumonia Day. Tapi sayangnya Indonesia sebagai negara ke-7 dunia pneumonia terbanyak, dihadapkan kenyataan rendahnya literasi vaksin pneumonia.
Mirisnya, banyak orang berpikir jika pneumonia hanya menyerang lansia, bayi dan anak-anak sebagai kelompok dengan sistem kekebalan tubuh lebih rendah. Padahal pneumonia bisa menyerang siapa saja, termasuk dewasa muda atau usia produktif.
Potret ini dibuktikan lewat riset kesehatan dasar atau Riskesdas 2018 Kementerian Kesehatan, dari total kasus pneumonia yang ditemukan 4,8 persen di antaranya balita, 3,7 persen usia 15 hingga 24 tahun, 3,6 persen usia 25 hingga 34 tahun, 3,7 persen usia 35 hingga 44 tahun, dan 5,8 persen usia 65 hingga 74 tahun.
Ini artinya walaupun balita usia 12 hingga 23 bulan kasus tertinggi, tapi jika dilihat dari usia produktif yakni 15 hingga 65 tahun artinya prevalensinya 11 persen. Alhasil, jika mengidap pneumonia adalah usia produktif, maka produktivitasnya bisa terganggu.
Pneumonia adalah penyakit peradangan paru-paru akibat infeksi bakteri, virus, parasit, jamur maupun mikroorganisme lainny. Jika sudah terinfeksi penderitanya bisa alami batuk berdahak, demam, dan sesak napas. Sederet gejala ini menganggu sehari-hari dan kualitas hidup penderitanya.
Sehingga selain diperlukan pada anak, vaksin pneumonia untuk usia produktif jadi keniscayaan. Menariknya dibanding vaksin pneumonia anak atau orang menyebutnya vaksin DPT HB dan imunisasi pneumokokus konjugasi (PCV) yang diberi dalam 4 kali suntik, terdiri dari 3 kali suntik wajib dan 1 kali suntik booster
Maka vaksin pneumonia pada usia produktif atau usia dewasa hanya perlu satu kali suntikan seumur hidup, yang otomatis terlindungi pneumonia akibat bakteri streptococcus pneumoniae atau pneumokokus hingga akhir hayat.
“Faktor risiko tersebut menunjukkan pentingnya vaksinasi pneumonia untuk pasien dengan penyakit penyerta dan untuk melindungi paru-paru pekerja yang memiliki pekerjaan khusus yang rentan terhadap penyebab pneumonia,” ungkap Pulmonologist Spesialis Paru dari Rumah Sakit Siloam, Dr. dr. Allen Widysanto, SpP dalam acara diskusi Pfizer dan Siloam Hospital di Karawaci, Tangerang, Banten, Jumat (11/11/202).
Kabar baiknya, Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (BPOM) sudah mengizinkan penggunaan vaksin pneumonia untuk semua usia, dari mulai bayi usia 6 minggu hingga 17 tahun dan usia produktif 18 hingga 49 tahun.
Baca Juga: Tidur di Lantai Dapat Picu Paru-paru Basah? Ini Faktanya
Padahal sebelumnya penggunaan vaksin pneumonia hanya sebatas usia 6 bulan hingga 5 tahun, dan dewasa di atas 50 tahun.
Dikatakan Plt. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes, dr. Prima Yosephine vaksinasi untuk mencegah pneumonia sangat penting, untuk menurunkan biaya pengobatan antibiotik di seluruh negara yang diperkirakan mencapai 109 juta dollar hanya satu tahun saja.
"Biaya ini sudah termasuk antibiotik dan biaya untuk diagnostik dari pneumonia. Tapi tentu biaya yang sangat besar ini, sangat disayangkan harus dikeluarkan, sementara pneumonia itu bisa kita cegah," ungkap dr. Prima di kesempatan yang sama.
Berita Terkait
-
Vidi Aldiano Sempat Pneumonia Sebulan Sebelum Meninggal, Ini Bahayanya bagi Pasien Kanker Ginjal
-
Bukan Cuma Penyakit Orang Tua, Ini 5 'Jurus Sakti' Biar Gak Kena Pneumonia
-
Dikira 'Lebih Aman', Dokter Paru Ungkap Vape Punya Bahaya yang Sama Ngerinya dengan Rokok
-
Waspada! Pneumonia Mengintai Dewasa dan Lansia, PAPDI: Vaksinasi Bukan Hanya untuk Anak-Anak
-
Studi: 1 dari 20 Balita Jakarta Kena Pneumonia akibat Polusi Udara
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
Terkini
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan