Suara.com - Nama Gita Savitri belum lama ini menjadi perbincangan warganet setelah pernyataan kontroversinya mengenai komunitas LGBT. Pernyataan ini dibuatnya saat menanggapi para pemain bola Jerman berpose menutup mulut saat bertanding di Piala 2022 yang berlangsung di Qatar.
Pernyataannya itu menuai hujatan bagi warganet karena dinilai pro LGBT. Warganet langsung menyerbunya di kolom komentar. Namun, bukan meminta maaf, Gita Savitri justru semprot balik warganet yang mengomentarinya.
Bahkan, Gita Savitri malah menyebutkan warganet yang tidak setuju dengannya mengalami stunting karena dinilai pemikirannya lamban.
"Gue sudah bacot-bacot poin yang lo bisa dapat adalah 'Gita emang merasa paling bener' ya sis? Dulu lo stunting kali yah makanya agak lamban," tulis Gita Savitri beberapa waktu lalu.
"Nih lagi orang stunting nambah satu. Freak," timpal Gita Savitri menyemprot netizen lainnya.
Hal tersebut lantas membuat warganet kesal. Apalagi ia menyindir stunting. Warganet juga berkomentar kalau ucapannya itu bisa menyinggung para orang tua dengan kondisi anak stunting. Apalagi, ia juga secara tidak langsung membuat stereotipe orang dengan pemikiran lambat pasti mengalami stunting.
Menanggapi hal tersebut, Peneliti Utama dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK mengatakan, sebagai influencer seharusnya sangat penting mengetahui informasi yang jelas. Hal ini karena pernyataan yang salah bisa saja memengaruhi pandangan orang lain.
“Yang harus diperhatikan itu, dampak dari false information terutama pada kesehatan itu luar biasa, apalagi banyak masyarakat yang perilakunya salah karena dipengaruhi influencer, padahal studinya udah ada,” jelas Dokter Ray saat diwawancarai, Selasa (13/12/2022).
Lebih lanjut, menurut Dokter Ray, masyarakat juga harus bisa memilah sumber ungkapan orang tersebut, sehingga tidak mudah percaya.
Baca Juga: Selebgram Ragil Mahardika Kisahkan Dirinya Bisa Beli Rumah di Jerman, hingga Disebut Tuan Takur
“Untuk menyaring informasi, kita harus lihat sumbernya dulu, siapa yang ngomong, supaya masyarakat enggak mudah percaya,” sambungnya.
Sependapat dengan Dokter Ray, Pengamat Psikososial dan Budaya, Endang Mariani mengatakan dalam menentukan seseorang stunting tidak bisa melihat dari apakah orang tersebut bodoh atau tidak.
“Kita enggak bisa bilang ‘oh anaknya bodoh ini itu’ itu sangat relatif, karena enggak ada anak yang bodoh sebetulnya. Lalu tolak ukurnya seperti apa, misalnya IQ, belum tentu IQ satu-satunya menentukan bahwa dia pintar gitu atau bodoh gitu. Mungkin dia punya kelebihan lain,” jelas Endang.
“Jadi enggak bisa kita generalisir bahwa itu ketidakmampuan seseorang untuk mencapai sesuatu kriteria tertentu hanya karena stunting,” lanjut Endang.
Menurut Endang, penentu seseorang stunting harus berdasarkan tolak ukur dan kriteria tertentu sehingga bisa didiagnosa ia mengalami masalah tersebut. Menurutnya semua itu membutuhkan prosedur hingga orang tersebut ditetapkan mengalami stunting.
“Jadi enggak bisa digeneralisir, untuk menentukan stunting kan ada ukurannya, ini dianggap gizi buruk, ini dianggap kurang, tapi ini dinyatakan atau didiagnosis stunting itu enggak gampang atau ada prosedurnya,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
Terkini
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa