Suara.com - Gaya hidup masyarakat akhir-akhir ini sering menjadi perhatian bagi dunia kesehatan. Pasalnya, gaya hidup masyarakat dinilai tidak sehat, khususnya pada gen z. Salah satu penyakit yang mudah menyerang karena gaya hidup yang kurang sehat ini yaitu neuropati.
Vice Secretary General Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), dr.Winnugroho Wiratman.Sp.N(K),Ph.D, mengatakan, pola hidup para gen z ini meningkatkan risiko neuropati. Apalagi, pekerjaan gen z yang berfokus pada penggunaan teknologi membuat mereka mudah alami gangguan pada sarafnya.
Berdasarkan penjelasan dr, Winn, penggunaan teknologi membuat para gen z jarang bergerak dan hanya terfokus pada komputer. Padahal, seharusnya setiap melakukan pekerjaan, seseorang harus melakukan gerakan 2 jam sekali. Hal ini karena bekerja dan fokus pada komputer saja bisa meningkatkan risiko neuropati.
“Bekerja sebagai sekretaris atau yang menggunakan komputer membuat seseorang mimim gerak, dan pakai komputer semua. Padahal setiap 2 jam sekali harus bergerak setidaknya 10 sampai 15 menit. Kalau diam lama berisiko alami neuropati,” jelas dr. Winn dalam konferensi pers Neuropathy Awareness Week 2023, Minggu (11/6/2023).
Tidak hanya masalah penggunaan teknologi, beban kerja yang diberikan juga terkadang membuat stres. Padahal, stres sendiri juga berisiko menjadi penyebab seseorang alami neuropati.
“Ya kalau secara patofisiologi kedokteran, stres itu mengacaukan sistem imun semuanya. Salah satunya faktor risiko neuropati adalah imunitas terganggu. Jadi itu mungkin kaitannya. Tapi yang lebih utama seperti lingkungan, itu lebih kepada pengendalian atau pengelolaan stres yang berdampak pada sistem tubuh,” sambung dr. Winn.
Faktor gaya hidup lainnya yang meningkatkan risiko neuropati terutama pada pekerja gen z yaitu kebiasaan konsumsi alkohol dan rokok. Berdasarkan penjelasan, dr. Winn, rokok konvensional ataupun elektrik dapat menyebabkan aliran darah terhambat yang berisiko saraf menjadi terganggu. Hal ini mendorong orang tersebut alami neuropati.
Sementara itu, pekerja gen z yang terbiasa konsumsi alkohol berpeluang sebabkan kanker. Dari penyakit kanker itu berisiko sebabkan gangguan neuropatik. Terutama jika tidak diseimbangkan dengan makan-makanan bergizi.
“Zat dalam rokok itulah yang menyebabkan aliran darah ke ujung-ujung sarafnya itu yang terhambat. Mereka yang merokok, minuman alkohol berlebihan, bisa sebabkan kanker yang juga akan berisiko terjadi neuropati, apalagi menggunakan kemoterapi. Lalu makan tidak seimbang, kekurangan gizi tidak selalu dia tidak banyak makan nasi, tidak seimbangnya makan sehari-hari bisa menyebabkan neuropati,” jelas dr. Winn.
Baca Juga: Miris, Dua Pekerja Migran Indonesia Dipulangkan dengan Peti Mati Setiap Harinya
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga