Suara.com - Bayi prematur harus segera jalani sejumlah pemeriksaan fisik untuk memastikan fungsi organnya berjalan baik. Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak dr. Setya Dewi Lusyati, Sp. A., mengatakan kalau pemeriksaan itu bahkan harus dilakukan secara berkala sampai usia bayi cukup dan fungsi organnya baik.
Dikatakan bayi prematur apabila lahir sebelum usia kehamilan masuk minggu ke-37 atau lebih awal dari hari perkiraan lahir. Kondisi itu terjadi ketika kontraksi rahim mengakibatkan terbukanya leher rahim (serviks) sehingga membuat janin memasuki jalan lahir.
"Untuk bayi prematur diperlukan pemeriksaan tambahan yang akan diulang secara berkala, seperti rontgen untuk melihat kemampuan paru, USG kepala untuk melihat ada-tidaknya perdarahan otak, magnetic Resonance Imaging (MRI) dilakukan jika ditemukan kelainan pada otak hasil dari USG kepala, USG jantung," kata dokter Setya dalam keterangan persnya, Rabu (19/7/2023).
Selain itu, perlu juga ada pengecekan fungsi mata untuk melihat vaskularisasi atau suplai oksigen dan nutrisi, terlebih pada bayi dengan riwayat pernah mendapat bantuan oksigen. Selanjutnya, pemeriksaan pendengaran yang dilakukan sebelum bayi keluar dari rumah sakit, rvaluasi tumbuh kembang hingga usia dua tahun. Selebihnya, pemeriksaan lain sesuai dengan kondisi klinis bayi.
Meski begitu, menurut dokter Setya, tidak semua gangguan perlu langsung mendapat tindakan atau bahkan tidak memerlukan tindakan pada bayi baru lahir.
"Kelainan jantung, misalnya, ada yang membaik dengan sendirinya pada usia satu tahun. Kalau pun perkembangan ke arah memburuk, tindakan dilakukan saat berat bayi mencapai tiga kilogram. Begitu pula dengan kelainan testis, pemantauan hingga usia 2-4 bulan, dan hernia sampai lebih dari usia 4 bulan," jelasnya.
Meski bayi lahir cukup bulan oun tetap perlu dilakukan sejumlah pemeriksaan kesehatan. Tindakan itu dilakukan untuk mencegah maupun mengatasi lebih cepat bila ada masalah kesehatan pada anak. Dokter Setya mengatakan bahwa pemeriksaan pertama yang dilakukan berupa pemeriksaan fisik.
"Pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan jenis kelamin, pengukuran berat dan panjang badan, serta ada-tidaknya kelainan bawaan yang terlihat secara kasat mata ini idealnya dilakukan di hadapan orang tua. Memasuki usia 48 jam, beberapa pemeriksaan lain pun perlu dilakukan," kata dokter Setya dalam keterangan persnya, Selasa (18/7/2023).
Pemeriksaan lain itu di antaranya:
Baca Juga: Asyik Cari Ikan Sapu-sapu, Warga Syok Temukan Mayat Bayi Terbungkus Kantong di Kali Sahardjo Tebet
1. Fungsi tiroid (Thyroid Stimulating Hormone/TSH)
Tes TSH dilakukan dengan pengambilan darah. Kekurangan tiroid dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan kemampuan mental secara perlahan. Jika diketahui ada gangguan dari pemeriksaan ini, pengobatan dapat dilakukan sebelum bayi berusia satu bulan
2. Fungsi enzim Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD)
Pada masyarakat Asia, khususnya Asia Timur, risiko kekurangan enzim lebih tinggi. Kondisi itu menyebabkan sel darah merah lebih cepat pecah dibanding pembentukannya, sehingga menyebabkan anemia dan mudah kuning.
3. Kelainan jantung bawaan biru
Dilakukan dengan pemeriksaan saturasi oksigen pada jari atau tangan kanan. Jika saturasi di bawah 90 persen, diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa echocardiography (USG jantung) untuk memastikan ada atau tidaknya kelainan pada jantung.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Cerita Pasutri Selamat dari Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi: Terpental hingga Pingsan
-
Tragedi di Stasiun Bekasi Timur: 3 Penumpang KRL Tewas dan 38 Korban Luka-luka Dilarikan ke 4 RS
-
KAI Fokus Evakuasi dan Normalisasi Jalur Pasca KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi Timur
-
Tabrakan Hebat di Stasiun Bekasi Timur: KRL vs Argo Bromo Anggrek, Jeritan Penumpang Pecah!
-
Rekam Jejak Jenderal Dudung Abdurachman: Dari Pencopot Baliho Kini Jadi Tangan Kanan Presiden
Terkini
-
Konsultasi Kesehatan Pakai AI? Risiko Halusinasi Medis, Dokter Tetap Tak Tergantikan
-
Menyeimbangkan Karier dan Anak, Daycare Berkualitas Jadi Kunci Dukungan untuk Ibu Bekerja
-
Tidak Perlu Keluar Rumah, Pesan Obat di Apotek K-24 Kini Bisa Lewat BRImo
-
Diskon 20 Persen Medical Check-Up di RS Siloam: Tanpa Batas Maksimal untuk Nasabah BRI!
-
Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas
-
Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak
-
Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik
-
Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks
-
Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin
-
Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala