Suara.com - Beberapa anak mengalami miopi atau mata minus sebelum usia 17 tahun. Tentu saja hal ini bisa mengganggu proses belajarnya di sekolah. Selain memakai kacamata, apakah aman jika anak menjalani operasi lasik?
Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Group sekaligus Dokter Spesialis Mata, Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD menegaskan jika operasi lasik tidak bisa dilakukan sebelum usia 18 tahun. Hal ini karena pertumbuhan anak masih terjadi, termasuk pada lingkar bola matanya.
"Lasik baru bisa dilakukan umur 18 tahun ke atas, jadi tidak bisa dilakukan pada remaja. Jadi misalnya dioperasi lasik usia 12 tahun, pasti minusnya akan tambah lagi," ujar Prof. Tjahjono saat konferensi pers virtual Grand Opening RS Mata JEC Orbita @Makassar, Sabtu (3/2/2024).
Laser-Assisted In Situ Keratomileusis atau operasi lasik adalah prosedur bedah yang populer untuk memperbaiki penglihatan mata yang buruk. Dalam praktiknya, laser digunakan untuk mengubah bentuk kornea mata, sehingga cahaya dapat difokuskan secara akurat pada retina.
Pada anak dengan mata minus, alih-alih melakukan operasi lasik, Prof. Tjahjano menyarankan untuk melakukan tindakan memperlambat pertumbuhan minus atau ketebalan kacamata, dengan orthokeratology.
Orthokeratology adalah penggunaan lensa kontak rigid gas permeable yang didesain khusus untuk digunakan pada malam hari saat tidur. Hal ini bertujuan untuk membentuk ulang permukaan kornea, sehingga dapat menghilangkan kelainan refraksi (mata minus dan silinder) dan menghambat kenaikan minus pada anak yang minusnya cepat bertambah.
"Kita ada pelayanan myopia control care. Jadi nantinya alat ini sejenis kontak lens di malam hari saat tertidur, diharapkan pertumbuhan minus bola mata terhambat. Tapi ini sifatnya sementara, tapi jika terlalu lama tidak dipakai orthoke-nya tidak dipakai lagi," papar dia.
Penjelasan yang sama diutarakan Direktur RS Mata JEC-Orbita @ Makassar, dr. Mirella Afifudin, Sp.M, M.Kes, lantaran mata anak berbeda pada orang dewasa, maka diperlukan dokter mata spesialis pediatrik kardiologi anak yang secara khusus mampu memantau pertumbuhan mata sebelum usia 18 tahun.
"Kami ada dokter spesialis di bidang anak nanti yang akan menilai, dengan anak minus atau silinder dengan terapi menggunakan kacamata atau kontak lens, terapi mana yang sesuai," jelas dr. Mirella.
Baca Juga: Mengenal Terapi Ortho K untuk Menurunkan Mata Minus
Lebih lanjut, Prof. Tjahjono mengatakan bahwa tindakan operasi lasik dapat dilakukan dengan cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit. Umumnya hanya membutuhkan waktu 10 menit, dan rasa sakit baru akan terasa 3 jam setelah tindakan karena efek obatnya yang habis.
"Di tahap ini mata tidak boleh terkena air atau dikucek untuk mencegah infeksi, lebih dari itu besoknya bisa aman bahkan untuk kegiatan berenang sekalipun," kata profesor yang berpraktik di Jakarta Eye Center Menteng ini.
Meski begitu Prof. Tjahjono tidak menampik jika operasi lasik yang dilakukan karena minus, bukan berarti semua kelainan refraksi mata bisa dihindari.
"Jadi setelah operasi tidak ada kelainan refraksi miopia, ya sudah stop pakai kacamata. Tapi jika operasinya waktu usia muda (di atas 18 tahun) itu hanya lasik minus, karena silinder dan plusnya belum muncul, kemungkinan di usia 40 tahunan plus dan silindernya bakal muncul," paparnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak