- Indonesia kekurangan ahli gizi untuk menangani masalah anemia dan stunting nasional.
- Namun di sisi lain, prevalensi ibu hamil kekurangan gizi turun dari 48 persen menjadi 27 persen.
- Perbaikan gizi di Indonesia mulai membuahkan hasil, terlihat penurunan angka stunting nasional.
Suara.com - Indonesia masih dihadapkan pada masalah gizi kronis seperti malnutrisi, kekurangan gizi, hingga obesitas. Namun sayangnya, jumlah ahli gizi secara nasional dinilai masih jauh dari harapan.
Fakta ini diungkap Direktur Jenderal (Dirjen) Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, yang menyoroti masih tingginya angka anemia pada balita dan remaja. Keberadaan ahli gizi dinilai krusial untuk memberikan intervensi dan pendampingan masalah kesehatan ini.
"Kita masih membutuhkan lebih banyak nutrisionis dan dietisien untuk memastikan pemenuhan gizi berjalan optimal,” ujar Maria melalui keterangan pers Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) yang diterima Suara.com, Jumat (30/1/2026).
Adapun masalah anemia yaitu kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin. Bila kondisi ini terjadi pada anak atau remaja, maka akan memengaruhi kesehatannya di masa depan, mulai dari kekurangan konsentrasi hingga memengaruhi janin saat perempuan dewasa hamil.
Bahkan, anemia yang disebabkan kekurangan gizi ini juga bisa menyebabkan anak lahir stunting.
Kabar baiknya, berkat regulasi yang berfokus pada kesehatan nasional hingga peran ahli gizi di lapangan, prevalensi ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi mulai berkurang.
“Dalam lima tahun terakhir, prevalensi ibu hamil dengan kekurangan gizi berhasil turun dari 48 persen menjadi 27 persen. Namun ini belum cukup,” jelas Maria.
Sementara itu, Ketua Umum PERSAGI, Doddy Izwardi, mengatakan capaian yang berhasil diraih bukanlah hasil instan karena membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun di masa lampau. Begitu juga di masa mendatang, hasil yang dicapai merupakan buah dari keputusan dan konsistensi yang dilakukan hingga hari ini.
"20 tahun ke depan adalah hasil dari apa yang kita lakukan sekarang. Gizi optimal menjadi fondasi utama,” kata Doddy.
Baca Juga: Negara Bisa Sat-Set: Menggugat Kecepatan Selektif Antara Gizi dan Guru
Hal ini pula yang menjadi alasan diselenggarakannya edukasi gizi serentak di 1.800 sekolah di seluruh Indonesia hingga PERSAGI mampu meraih Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Edukasi dari para ahli gizi ini juga digelar untuk memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 pada 2026.
"Ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan gizi optimal bagi generasi Indonesia," ungkap Doddy.
Dalam kegiatan yang bertema 'Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045' itu, Doddy juga menyampaikan bahwa perbaikan gizi di Indonesia mulai membuahkan hasil. Salah satunya penurunan angka stunting nasional hingga 19,8 persen.
Namun, menurut Doddy, Indonesia masih dihadapkan pada masalah kekurangan gizi dan meningkatnya prevalensi obesitas.
“Upaya promotif dan preventif melalui kebiasaan hidup sehat harus terus diperluas,” pungkas Doddy.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?