Suara.com - Penyakit jantung masih menempati urutan pertama penyebab kematian tertinggi di Indonesia, bahkan di dunia. Semakin tingginya kasus penyakit jantung di Tanah Air membuat kebutuhan masyarakat Indonesia akan layanan jantung dan pembuluh darah yang modern dan lengkap menjadi sangat penting.
Pasang ring jantung adalah salah satu prosedur medis yang kerap dilakukan kepada penderita jantung koroner. Tindakan ini akan memasang alat ring jantung atau stent yang berfungsi membuka penyumbatan pada arteri. Namun, tidak semua orang yang mengidap penyakit jantung koroner peelu tindakan ini.
Menurut Dr. dr. Dafsah Arifa Juzar, Sp.JP(K) – Chairman Heartology Cardiovascular Hospital, penyakit jantung koroner ada bersifat akut dan juga kronis. Yang bersifat akut atau mendadak itu bisa menyebabkan serangan jantung, kemudian juga bisa stroke. Tapi kalau untuk yang kronis relatif stabil.
"Karena sebenarnya ini adalah penyakit degeneratif, jadi sesuatu yang perlu dikontrol faktor risikonya, dan pemasangan cincin itu hanya di atasnya. Jadi fondasinya obat," kata Dr. Dafsah di konferensi ilmiah kardiovaskular bertajuk CARES (Cardiac & Vascular Excellence Scientific Updates 2024).
"Idealnya kita tahu mana sih yang kalau dipasang pasiennya akan mendapat benefit, karena nggak semua yang sempit perlu dipasang. Maksudnya kalau ada penyempitan, bukan berarti harus dipasang," kata Dr. Dafsah lagi.
Mengetahui dengan tepat kriteria pasien seperti apa yang bisa mendapatkan prosedur ini, akan memberi benefit maksimal dan juga pencegahan terjadinya penyumbatan berulang.
Lalu, apa yang menjadi pertimbangan dokter dalam memasang cincin atau stent pada pasien penyakit jantung koroner?
Yang pertama, menurut Dr. Dafsah, dilihat dari lokasi penyumbatan di pembuluh darah. Penyumbatan pembuluh darah di bagian pangkal dampaknya berbeda dengan penyumbatan yang ada di ujung pembuluh darah.
"Kalau di ujung pangkal, berarti daerah yang terkena luas. Kelihatannya penyempitan nggak terlalu berat, tapi karena daerahnya luas, dia berdampak luas. Beda sama yang di ujung, karena dia di ujung, mungkin penyempitannya 90%, tapi karena di ujung, daerahnya kecil, mungkin nggak ada maknanya (tidak terlalu berat)," katanya.
Baca Juga: Mengapa Konsumsi Garam Berlebih Picu Hipertensi dan Penyakit Jantung? Dokter Ungkap Alasannya
Kemudian yang kedua, pasang cincin ini, menurut Dr. Dafsah, sudah ada panduan optimalnya supaya tidak berulang dipasang, dan agar jangan sampai dengan pemasangan cincin malah terjadi serangan jantung.
"Bisa terjadi kalau pemasangannya enggak optimal. Makanya untuk tahunya dia optimal dan awet, gimana? Kita harus bisa nilai hasil akhirnya baik enggak," katanya.
Salah satu teknologi untuk melihat pembuluh darah, intravascular ultrasound, bisa melihat dari dalam pembuluh darah, dan terbukti mempunyai benefit dari segi mortalitas dan juga keawetan, serta komplikasi, pada kasus-kasus yang kompleks.
"Kompleks maksudnya perlu cincinnya panjang, perlu cincinnya banyak, kemudian pasang di percabangan, atau pembuluh darahnya tadinya tertutup buntu total. Jadi itu adalah benefit terbesar terlihat," jelas Dr. Dafsah.
Teknologi ini memungkinkan para dokter dan tenaga media untuk menangani kasus yang kompleks, dan mememastikan bahwa hasil tindakan yang dilakukan sudah optimal.
"Intinya kalau nggak pakai (teknologi ini), kita enggak tahu hasil akhir kita ini sebenarnya sudah optimal atau nggak.
Berita Terkait
-
80 Persen Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Tidak Diketahui Penyebabnya, Dokter: Waspada Obat Jerawat pada Ibu Hamil
-
Deteksi Penyakit Jantung dengan CT Scan Kini Cuma Butuh Waktu Kurang Dari 1 Detik, Paparan Radiasinya Lebih Rendah?
-
Penyakit Jantung Kini Tak Kenal Usia, Hati-Hati Bagi yang Hobi Rebahan dan Malas Olahraga
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan