Suara.com - Ratusan penelitian membuktikan vaksinasi pada anak bisa mencegah anak sakit berat karena tertular penyakit. Tapi masih saja ada orangtua yang ogah anaknya divaksin bahkan sejak lahir, padahal bahayanya bisa bikin anak cacat alias disabilitas loh!
Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Hartono Gunardi, Sp.A(K) membenarkan fakta tersebut karena jika anak dari lahir sama sekali belum pernah diimunisasi atau vaksinasi, maka anak tersebut akan sangat rentan terkena penyakit.
"Ketika ada anak yang tidak pernah imunisasi, dia rentan terhadap infeksi. Secara teoritis anak-anak tersebut sangat berisiko untuk menderita sakit, padahal pencegahannya gampang, bawa ke Posyandu atau ke Puskemas mendapatkan imunisasi dan itu gratis disediakan oleh kementerian kesehatan," ujar Prof. Hartono dalam acara Peringatan Hari Pneumonia Sedunia 2024 oleh MSD Indonesia di Jakarta, ditulis Selasa (19/11/2024).
Blak-blakan, Prof. Hartono juga mengatakan untuk tidak asal klaim menilai anak terlihat baik-baik saja meski tidak divaksinasi. Bisa jadi anak tersebut terlindungi berkait herd immunity atau kekebalan kelompok anak yang sudah divaksinasi sehingga tidak tertular ke anak yang belum divaskinasi tersebut.
Namun saat penyakit langsung menginfeksi anak yang tidak bisa divaksinasi, maka dampaknya bisa sangat berat terhadap anak tersebut. Apabila anak sembuh, sisa gejala atau bekas dari penyakit tersebut bisa menyebabkan kecacatan semasa hidupnya.
"Kita tidak bisa mengatakan bahwa anaknya baik-baik saja, karena kita tidak punya data kesehatan anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi tersebut," jelas Prof. Hartono.
"Kalau anak sakit ada gejala sisa setelah sembuh dari penyakitnya bisa cacat juga. Seperti radang selaput otak (meningitis) bisa sebabkan anak cacat, kelumpuhan, kekakuan anggota gerak, kecerdasan berkurang itu bisa memengaruhi kualitas anak tersebut dan kualitas hidup keluarga tersebut," sambungnya.
Salah satu bukti anak yang tidak divaksinasi lalu terserang penyakit, terlihat dari adanya kasus polio di beberapa daerah seperti Aceh dan Purwakarto hingga memicu KLB (kejadian luar biasa) beberapa waktu lalu, yang akhirnya membuat seluruh anak di daerah tersebut perlu segera dapat vaksin tambahan.
"Termasuk polio, karena banyaknya anak tidak mendapatkan imunisai lengkap, maka timbul KLB polio di aceh, di purwakarta dan lain-lain, sehingga kemenkes menjalankan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio, yang sudah lewat," kata dia.
Baca Juga: Teknologi Drone Jerman Jadi Solusi Distribusi Obat dan Vaksin di Pelosok
Prof. Hartono juga mengingatkan orangtua untuk tidak menganggap sepele petingnya vaksinasi. Apalagi jika menganggap vaksin hanya 'target tertentu' Kementerian Kesehatan (Kemenkes), karena tujuannya untuk melindungi anak, keluarga dan masyarakat Indonesia.
"Dari lahir dia belum dapat imunisasi, makanya diberikan imunisasi mulai dari lahir dan seterusnya, sesuai jadwal imunisasi anjuran kemenkes itu diperlukan, bukan capai target kemenkes, tapi untuk melindungi anak itu," ungkap Prof. Hartono.
Apalagi dampak pandemi Covid-19 cukup panjang bagi Indonesia, karena ada 1,8 juta anak yang belum divaksinasi, dampak dari pandemi Covid-19 yang membuat pelayanan kesehatan terganggu.
"Kita tahu kan pandemi Covid-19 membawa dampak terhadap layanan kesehatan, termasuk di Indonesia dan itu anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi itu berakumulasi dari 2019,2020,2021 sampai 2023 jumlah 1,8 juta anak," paparnya.
Salah satu vaksin yang tidak boleh terlewat yaitu vaksin pneumonia atau Vaksin Pneumococcal Vaccine (PCV) untuk mencegah anak terkena radang paru alias pneumonia. Tidak hanya itu vaksin ini juga diberikan untuk mencegah anak sakit berat karena sakit meningitis (radang selaput otak), otitis media (radang telinga tengah), bacteremia (infeksi darah).
Vaksin PCV diberikan untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut yang disebabkan oleh bakteri Pneumokokus. Vaksin PCV dianjurkan untuk diberikan kepada anak-anak dan lansia, serta orang-orang dengan kondisi medis tertentu, seperti daya tahan tubuh lemak, kelainan bawaan lahir, penyakit kronis, kelainan darah, hingga riwayat operasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?
-
Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia
-
4 Penyebab Hantavirus dan Gejala Awalnya, Ramai Dibahas usai Kasus MV Hondius