Hampir setiap orang pasti pernah mengalami kondisi di mana ia ingin melakukan suatu pekerjaan namun tiba-tiba enggan melakukannya karena ada orang yang menyuruhnya. Kondisi ini dalam psikologis dinamakan dengan psychological reactance. Penasaran apa itu psychological reactance?
Suara.com - Kondisi psychological reactance membuat seseorang secara tidak sadar merasa kehilangan kebebasan berperilaku. Bahkan ada beberapa orang yang merasa kebebasan untuk membuat pilihannya sendiri terancam karena adanya dorongan dari orang lain. Tak heran bila kondisi ini kerap membuat orang sangat kesal dan tidak semangat melakukan hal apapun.
Apa Itu Psychological Reactance?
Kondisi psychological reactance yang muncul berpusat terhadap perasaan di mana ia merasa kehilangan kebebasan untuk berperilaku. Fenomena ini bisa terjadi di berbagai lingkungan, baik itu di rumah bersama orang tua, kakak, adik, teman atau di lingkup profesional.
Sebagai contoh, kamu memiliki niat ingin membersihkan kolong tempat tidur namun ketika hendak melakukannya, ibu atau ayah menyuruhmu untuk melakukan hal sama yang sebenarnya sudah ingin kamu lakukan dari tadi. Alih-alih mengindahkan permintaan itu, kamu justru merasa kesal karena hal yang sebenarnya akan kamu kerjakan dianggap merupakan hasil dari suruhan, bukan karena inisiatif diri sendiri.
Diketahui, konsep psychological reactance ini ditemukan oleh psikolog Dr. Jack Brehm pada tahun 1966. Kala itu, ia mendefinisikan reaktansi sebagai suatu sikap motivasi untuk mendapatkan kembali kebebasan usai kebebasan tersebut hilang atau terancam. Keadaan itu menyebabkan seseorang yang mendapatkan perintah dan tekanan ketika mereka hendak melakukannya sendiri justru memberontak dan justru memiliki indikasi untuk melakukan hal yang sebaliknya.
Psychological reactance atau jika diterjemahkan reaktansi psikologis mempunyai ikatan dengan bagaimana kita merasakan kebebasan. Merangkum dari berbagai sumber, terdapat empat poin penting dalam teori psychological reactance ini, diantaranya:
- Reaktansi bisa tiba-tiba muncul ketika kita merasakan memiliki kontrol. Kita hanya akan merasa reaktansi saat percaya kita bisa memilih dan mengendalikan perilaku sendiri.
- Saat kebebasan yang kita miliki untuk melakukan suatu hal hilang, sudah pasti kita akan semakin merasa terganggu atau menentang suruhan dari orang lain tersebut.
- Makin minim kebebasan, maka akan semakin besar reaktansinya, Misalnya saja, ketika ke sekolah murid dilarang untuk membawa handphone dsn alat elektronik, mereka akan lebih merasa keberatan dibandingkan untuk tidak memakai handphone saat kelas berlangsung.
- Reaktansi akan lebih besar jika terdapat indikasi ancaman dari pihak lain. Sebagai contoh, apabila guru melarang siswa laki-laki memanjangkan rambut, murid mungkin akan merasa bahwa mereka juga dilarang memanjangkan kuku. Hal ini pun membuat reaktansi jadi lebih besar.
Kesimpulannya, psychological reactance merupakan sebuah teori psikologis yang berlandaskan pada kondisi kebebasan seseorang dalam berperilaku terusik atau terancam. Jadi kini kamu bisa memahami bahwa perasaan tidak suka disuruh menjadi kondisi psikologis yang butuh perhatian khusus.
Demikian penjelasan mengenai apa itu psychological reactance. Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah wawasan terkait kondisi psikologis seseorang dan diri sendiri.
Baca Juga: Ulasan Novel Logika Asa, Perjuangan Diri di Tengah Tuntutan Keluarga
Kontributor : Putri Ayu Nanda Sari
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- 7 Sepatu Skechers Wanita Tanpa Tali, Simple Cocok untuk Usia 45 Tahun ke Atas
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Terkini
-
Kabar Gembira! Kusta Akan Diskrining Gratis Bareng Cek Kesehatan Nasional, Ini Rencananya
-
Era Baru Dunia Medis: Operasi Jarak Jauh Kini Bukan Lagi Sekadar Imajinasi
-
Angka Kematian Bayi Masih Tinggi, Menkes Dorong Program MMS bagi Ibu Hamil
-
Gaya Hidup Sedentari Tingkatkan Risiko Gangguan Muskuloskeletal, Fisioterapi Jadi Kunci Pencegahan
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu