Suara.com - Buang air kecil di malam hari hingga anyang-anyangan jadi salah satu tanda pembesaran kelenjar prostat atau hiperplasia prostat jinak (BPH). Kondisi ini bisa diatasi dengan pengobatan terapi rezum, tindakan apa itu?
BPH juga disebut dengan pembesaran prostat jinak yaitu kondisi saat kelenjar prostat membesar, yang menyebabkan aliran urine atau air kencing tidak lancar lalu buang air kecil terasa tidak tuntas alias anyang-anyangan.
Dokter Spesialis Urologi RS Abdi Waluyo (RSAW), dr. Adistra Imam Satjakoesoemah, Sp.U., FICS mengatakan saat ini prosedur medis sudah berfokus pada kenyamanan dan kecepatan sehingga pasien tidak perlu bergantung seumur hidup. Termasuk dalam pengobatan pembesaran prostat jinak.
dr. Adistra mengatakan terapi rezum jadi salah satu pilihan pengobatan pembesaran prostat jinak yang cukup modern dan kian diminati karena tindakan ini bukanlah metode operasi besar. Terlebih sudah ada lebih dari 50 pasien yang menjalani tindakan ini di RS Abdi Waluyo.
"Tanpa ketergantungan obat seumur hidup, dan tanpa mengganggu fungsi seksual, menjadikannya inovasi unggulan dalam pelayanan urologi minimal invasif di RSAW," ujar dr. Adistra melalui keterangannya di Jakarta, Kamis, 22 Mei 2025 lalu.
Dalam situs resminya, RS Abdi Waluyo, yang diklaim sebagai Rezum Center of Excellence pertama di Indonesia, menjelaskan, rezum adalah terapi modern yang menggunakan uap air untuk menghancurkan jaringan prostat yang membesar.
Prosedur ini dilakukan dengan bius umum dan menggunakan sistoskop yang dimasukkan melalui uretra, tanpa perlu sayatan. Alat genggam kecil digunakan untuk mengarahkan uap air yang dihasilkan dari gelombang radiofrekuensi ke jaringan prostat yang membesar.
Uap ini menyebabkan kerusakan pada jaringan tersebut, yang kemudian diserap tubuh secara alami, sehingga prostat mengecil.
Ketika jaringan prostat yang membesar ini mengecil, uretra kembali terbuka dan gejala BPH seperti anyang-anyangan berkurang.
Baca Juga: Resep Dokter Tak Cukup, Luka Mental Butuh Lebih dari Sekadar Obat
Tapi, tindakan ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu tidak cocok untuk semua ukuran dan bentuk prostat. Saat tindakan perlu pemasangan kateter selama 3 hingga 5 hari pasca tindakan, karena pembengkakan awal prostat.
Ditambah kemungkinan adanya rasa tidak nyaman saat buang air kecil dalam 4–6 minggu setelah tindakan, serta kemungkinan terdapat darah dalam urin atau air mani. Namun kondisi ini tidak hanya terjadi saat terapi rezum tapi juga prosedur lain untuk pembesaran prostat jinak.
Perlu diketahui, pembesaran prostat jinak bukanlah kanker, dan kondisi ini kerap terjadi pada lelaki seiring bertambahnya usia, khususnya saat menginjak usia 85 tahun. Apalagi data memperkirakan nyaris 90 persen lelaki akan alami kondisi ini.
"RSAW menjadi pusat terapi yang menggunakan teknologi terbaik, menyediakan fasilitas lengkap dan tenaga medis berpengalaman dalam prosedur ini, serta menghadirkan kenyamanan, kecepatan, dan keefektifan tanpa harus menjalani operasi besar," ungkap dr. Adistra seraya memperingati RS Abdi Waluyo yang sudah berdiri sejak 1984 atau sudah berusia 41 tahun.
Selain rumah sakit ini sudah memiliki teknologi canggih seperti MRI 3 Tesla, Photon Counting CT Scan serta tindakan minimal invasif di bidang layanan medis seperti miom, urologi, hingga obgyn. Ada juga momen di mana Pendiri RS Abdi Waluyo, dr. Sutrisno T. Subagyo, Sp.PD-JP menceritakan perjuangannya diragukan sebagai rumah sakit swasta independen yang dibangun untuk masyarakat.
"Dan memang benar, banyak sekali jatuh bangun yang kami alami dalam prosesnya. Namun saya tetap yakin dengan tujuan utama kami untuk menolong masyarakat. Sehingga saya banyak berserah dan berdoa agar prosesnya bisa berjalan dengan baik,” cerita dr. Sutrisno.
Berita Terkait
-
Temuan Peneliti Swedia: Mengendus Bau Badan Bisa Bermanfaat dalam Terapi Kecemasan
-
7 Obat Herbal untuk Pembesaran Prostat yang Terbukti Efektif
-
Ulasan Buku Terapi Luka Batin: Menemukan Kembali Diri Kita yang Belum Utuh
-
Apa Itu Terapi Deep Brain Stimulation ?
-
Mengenal K-Rehab, Metode Rehabilitasi dari Korea yang Fokus pada Personalisasi Terapi
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?