Suara.com - Bernafas adalah proses alami yang dilakukan manusia sepanjang hidupnya. Namun, tahukah Anda bahwa cara kita bernafas, apakah melalui hidung atau mulut, bisa berdampak besar terhadap kesehatan, terutama pada anak-anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan?
Menurut drg. Fauzia Adhiwidyanti, Sp.Ort., dokter gigi spesialis ortodontis di Bethsaida Hospital Dental Center, kebiasaan bernafas lewat mulut tidak bisa dianggap sepele.
“Kebiasaan bernafas melalui mulut yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar, biasanya terjadi karena adanya kesulitan bernafas melalui hidung. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, maka akan ada risiko terjadinya masalah gigi dan rahang di masa depan,” jelasnya.
Anak-anak yang memiliki alergi, sinusitis, pembesaran amandel, atau bentuk rongga hidung yang sempit seringkali kesulitan mendapatkan cukup udara melalui hidung.
Tanpa disadari, tubuh mereka mengambil jalan pintas dengan menggunakan mulut sebagai jalur keluar masuk udara. Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa menimbulkan dampak signifikan.
“Bernafas lewat mulut pada masa pertumbuhan dapat menyebabkan lengkung gigi atas menjadi sempit, gigi maju, gigitan terbalik di gigi belakang, atau gigitan terbuka di gigi depan yang menyulitkan aktivitas mengunyah maupun memotong makanan,” ungkap drg. Fauzia.
Lebih jauh lagi, produksi air liur yang berkurang akibat mulut sering terbuka membuat rongga mulut lebih kering, sehingga risiko gigi berlubang dan penyakit gusi meningkat.
Pada sebagian anak, kebiasaan ini juga bisa memengaruhi bentuk wajah. Pertambahan panjang sepertiga bawah wajah, yang dikenal sebagai kondisi long face, kerap terjadi akibat struktur rahang yang berkembang tidak seimbang.
Orang tua perlu lebih jeli mengamati kebiasaan anak sehari-hari. Jika anak sering tidur dengan mulut terbuka, mendengkur, terbangun dengan mulut kering, atau terlihat memiliki wajah lebih panjang dengan lingkaran hitam di bawah mata, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Baca Juga: 47 Persen Orang Dewasa Terancam, Rahasia Gusi dan Hubungannya dengan Jantung: Diabetes dan Alzheimer
Semakin cepat masalah ini ditangani, semakin baik pula hasilnya untuk kesehatan gigi, rahang, dan kualitas tidur anak. Perawatan ortodontik menjadi salah satu langkah penting untuk membantu anak mengembalikan kebiasaan bernafas lewat hidung.
“Perawatan ortodontik dapat membantu memperbaiki posisi gigi, memotivasi pasien untuk bernafas lewat hidung, serta mencegah risiko komplikasi jangka panjang,” tambah drg. Fauzia.
Dalam beberapa kasus, perawatan ini juga memerlukan kerja sama dengan dokter THT, dokter anak, atau terapis wicara untuk mengatasi penyebab medis yang mendasari.
dr. Pitono, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, menegaskan pentingnya penanganan sejak dini.
“Kami percaya, perawatan ortodontik tidak hanya memperbaiki gigi, tetapi juga meningkatkan kesehatan mulut, bentuk wajah, dan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.”
Mengajarkan anak untuk bernafas melalui hidung sejak dini adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan mereka. Dengan penanganan yang tepat, kita tidak hanya membantu mereka mendapatkan senyum yang indah, tetapi juga mendukung pertumbuhan wajah yang seimbang dan tidur yang lebih nyenyak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?