- Pengobatan untuk kanker semakian berkembang seiring berjalannya waktu, termasuk dengan memanfaatkan teknologi nuklir.
- Terkini, terdapat dua teknologi kedokteran nuklir termutakhir yang digunakan untuk pengobatan di Indonesia.
- Apakah metode pengobatan tersebut lebih aman dari kemoterapi? Simak penjelasan dokter.
Suara.com - Pengobatan kanker kini sudah melibatkan kedokteran nuklir, dengan teknologi radiasi yang masih sangat asing bagi masyarakat Indonesia. Tapi benarkah radiasi kanker dengan radioaktif lebih aman dibanding kemoterapi?
Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi, dr. Esther Devina Panjaitan, SpKN menjelaskan sudah ada dua teknologi kedokteran nuklir termutakhir yang digunakan di Indonesia yaitu Positron Emission Tomography (PET) CT Scan dan Single-Photon Emission Computed Tomography (SPECT) CT.
Kedua alat ini merupakan pencitraan dengan teknologi canggih yang dapat meningkatkan akurasi diagnosis dan penanganan berbagai penyakit, khususnya dalam bidang onkologi alias kanker.
"Keunggulan kedokteran nuklir bisa buat diagnosis dini, seperti perubahan fungsi atau gangguan metabolismenya. Kemudian bisa buat deteksi kelainan yang belum terlihat pada CT scan, kenapa ini efisien? Karena pemeriksaan dilakukan langsung," ujar dr. Esther dalam acara Kerja Sama GE HealthCare dan RS Mitra Keluarga Bekasi Timur di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (6/11/2025).
dr. Esther menambahkan dua alat ini digunakan bukan hanya untuk deteksi kanker di tahap awal, tapi juga untuk terapi yang lebih menyasar sel kanker alias targeted therapy.
Inilah yang membedakan cara kerja kedokteran nuklir, memanfaatkan bahan radioaktif yang disebut tracer untuk nantinya mengalir ke jaringan dan organ tubuh. Tracer yang disuntikkan sebelum tubuh dipindai ini nantinya akan memancarkan sinar gamma yang dapat dideteksi.
Setelah terdeteksi, maka pengobatan kedokteran nuklir berupa terapi radiasi terbuka menggunakan radiofarmaka akan lebih terarah pada sel abnormal atau kanker. Sehingga sel sehat tidak akan terpengaruh seperti efek samping pada kemoterapi.
"Terapi menyerang langsung organ yang sakitnya, tanpa berikan efek samping pada organ lain. Kalau pada kemoterapi bukan hanya sel kankernya yang rusak tapi sel sehat juga. Jadi efeknya kemoterapi bisa mual, mual muntah," papar dr. Esther.
"Pada kedokteran nuklir ini pengobatan lebih targeted, maka tidak akan menyebabkan efek samping berlebihan," sambungnya.
Baca Juga: Gerakan Peduli Kanker Payudara, YKPI Ajak Perempuan Cintai Diri Lewat Hidup Sehat
Kedokteran nuklir dengan memanfaatkan radioaktif atau radiofarmaka juga tidak perlu mengkhawatirkan seberapa buruknya fungsi ginjal. Ini karena tidak seperti CT scan contrast yaitu pemeriksaan dengan zat kontras yang tidak bisa dilakukan jika fungsi ginjalnya buruk.
Padahal kebanyakan pasien kanker cenderung memiliki fungsi ginjal yang menurun sehingga bisa mengganggu proses pemeriksaan. Sedangkan metode kedokteran nuklir ini tidak akan memengaruhi organ yang sakit.
"Sedangkan pada pemeriksaan kedokteran nuklir, berapa pun fungsi ginjal Anda, berapa pun fungsi liver Anda, kondisi apa pun, dia bisa dikerjakan, kenapa? Karena obatnya dibuat sefisiologis mungkin dengan kondisi tubuh. Sehingga dia tidak akan mengganggu atau merusak organ-organ yang sudah sakit ataupun organ yang masih sehat," jelas dr. Esther.
Adapun prosedur deteksi dan terapi kanker pada kedokteran nuklir yang memanfaatkan radiofarmaka, yaitu pasien akan diminta berganti pakaian untuk memastikan tidak adanya kontaminasi radiasi. Apalagi pakaian juga akan digunakan saat pulang sehingga mencegah pasien tidak akan membawa radiasi ke luar ruang tindakan.
"Kemudian pasien akan kita suruh untuk menunggu di ruangan yang telah disediakan. Lalu dilakukan penyuntikan radiofarmaka, namanya penyuntikan pasti sakit ya, tuh kayak mengambil darah saja seperti itu," kata dr. Esther.
Selanjutnya pasien akan menunggu sekitar 60 menit untuk memastikan obat terdistribusi dari kepala hingga kaki. Barulah dilakukan pemeriksaan scan, di mana durasinya bergantung dari tinggi dan berat badan pasien.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?