Suara.com - Selama berabad-abad, puasa dominan dipraktikkan sebagai ritual keagamaan dan spiritual. Namun, dalam sepuluh tahun terakhir, paradigma medis mulai bergeser.
Puasa kini diakui sebagai intervensi terapeutik yang kuat bagi tubuh manusia. Penelitian klinis menunjukkan bahwa ketika asupan makanan dihentikan sementara, tubuh tidak hanya berdiam diri dalam kelaparan, melainkan mengaktifkan mode perbaikan sistemik yang sangat kompleks.
Berikut adalah empat mekanisme biologis utama yang terjadi saat tubuh berada dalam kondisi puasa menurut studi medis terbaru:
1. Autofagi: Sistem Pembersihan Sel Otomatis
Landasan ilmiah mengenai puasa diperkuat oleh temuan ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran pada 2016.
Ia membedah fenomena Autofagi, yang secara harfiah berarti "memakan diri sendiri".
Saat tidak ada energi masuk, sel-sel tubuh secara cerdas mulai mengidentifikasi komponen yang rusak, protein yang cacat, atau sel yang tidak berfungsi.
Sel-sel ini kemudian dihancurkan dan didaur ulang menjadi unit energi baru yang lebih bersih. Mekanisme detoksifikasi internal ini sangat krusial dalam meminimalisir risiko penyakit degeneratif saraf, termasuk Alzheimer dan Parkinson.
2. Pergeseran Metabolik: Membakar Lemak Menjadi Energi
Baca Juga: Wajib Tutup Selama Ramadan? Ini Daftar Tempat Hiburan Malam di Jaksel yang Disegel Pemprov DKI
Sebuah laporan dalam The New England Journal of Medicine (2019) menyoroti fenomena bernama "Metabolic Switching" atau peralihan metabolisme. Secara normal, tubuh mengandalkan glukosa (gula) sebagai bensin utama.
Namun, setelah memasuki fase 12 jam tanpa makanan, cadangan gula di hati akan menipis. Pada titik inilah tubuh melakukan "saklar" energi dengan membakar lemak dan mengubahnya menjadi Keton.
Lebih dari sekadar bahan bakar alternatif, keton berperan sebagai molekul pemberi sinyal yang memerintahkan sel untuk memperkuat proteksi terhadap stres oksidatif serta mempercepat pemulihan struktur DNA yang rusak.
3. Pemulihan Sensitivitas terhadap Insulin
Puasa merupakan metode alami yang sangat efektif untuk mengatasi resistensi insulin, sebuah masalah utama pada masyarakat modern.
Riset yang dimuat dalam World Journal of Diabetes (2017) mengungkapkan bahwa jeda makan secara rutin mampu menekan kadar insulin dalam darah secara signifikan.
Berita Terkait
-
Wajib Coba, Food Avenue Baru di Bogor Tawarkan Surga Kuliner Ramadan: Dari Soto Hingga Bakso!
-
Doa Buka Puasa Ramadan Apakah Beda dengan Doa Buka Puasa Sunah?
-
Profil Anthony Lopes, Kiper FC Nantes yang Pura-pura Cedera Demi Rekan Setimnya Berbuka Puasa
-
Work-Life Balance Saat Ramadan: Tetap Produktif Tanpa Kehilangan Makna
-
Sahur Jakarta Jam Berapa? Ini Panduan Lengkap Selama Ramadan 2026
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?