Health / Parenting
Kamis, 09 April 2026 | 15:15 WIB
Ilustarsi mainan anak [Suara.com/PMB-Ist]
Baca 10 detik
  • Bermain merupakan instrumen esensial bagi anak untuk mematangkan aspek fisik, emosional, intelektual, serta keterampilan sosial sejak usia dini.
  • Prof. Mubiar Agustin menyatakan bahwa aktivitas eksplorasi lingkungan yang dinamis berperan penting dalam proses pembelajaran otentik bagi anak.
  • PMB Toys sejak 2011 menyediakan mainan edukatif guna melatih koordinasi motorik, kemampuan spasial, dan mendukung perkembangan anak Indonesia.

Suara.com - Bermain bukan sekadar pengisi waktu luang bagi anak-anak, melainkan instrumen esensial dalam proses pematangan fisik, emosional, dan intelektual.

Aktivitas ini dilakukan atas dasar kesenangan tanpa unsur paksaan, berfungsi sebagai media efektif untuk menyalurkan energi berlebih sekaligus sarana berekspresi secara bebas.

Sejak usia bayi, balita, hingga memasuki usia sekolah dasar, bermain menjadi "pekerjaan" utama anak yang membantu mereka memahami dunia di sekitarnya.

Melalui interaksi aktif, anak-anak belajar mengolah emosi, membangun konsentrasi, dan memperkuat fondasi psikologis yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Secara spesifik, bermain memberikan dampak signifikan pada perkembangan motorik kasar dan halus. Aktivitas fisik seperti melompat, berlari, dan memanjat merangsang pertumbuhan otot dan koordinasi tubuh.

Tidak hanya fisik, aspek kognitif anak pun berkembang melalui kreativitas dan kemampuan berfikir kritis saat mereka harus memecahkan tantangan dalam permainan.

Keterampilan sosial seperti kerja sama, kepatuhan terhadap aturan yang disepakati, dan rasa empati tumbuh secara alami ketika anak berinteraksi dengan teman sebaya dalam sebuah kelompok bermain.

Pentingnya kebebasan bermain bagi kesehatan anak ditegaskan oleh Prof. Dr. H. Mubiar Agustin, M.Pd., akademisi dari Universitas Pendidikan Indonesia.

Menurutnya, indikator anak yang sehat tercermin dari aktivitas mereka yang dinamis dalam mengeksplorasi lingkungan. Anak cenderung mengikuti naluri rasa ingin tahu mereka tanpa terlalu mengkhawatirkan risiko fisik, yang sebenarnya merupakan bentuk pembelajaran otentik. 

Baca Juga: Seru Banget! Anak Belajar Jadi Chef Profesional dan Rumput Laut di Wahana Baru Nutrijell KidZania

“Anak jika disuruh duduk diam dan memperhatikan saja tidak bagus dan tidak akan fokus. ajak anak keluar, kenalkan anak pada lingkungan sekitarnya, ajak mereka bermain sambil belajar. Sebab anak itu Jiwanya berpetualang, mereka berlari, bernyanyi dan berjelajah.” Ungkap Mubiar Agustin, dikutip dari laman UPI.

Mengamati anak saat bermain memberikan wawasan nyata mengenai gejala perkembangan yang tidak selalu tertangkap oleh teori buku teks.

 Observasi langsung di lapangan memungkinkan orang tua dan pendidik melihat bagaimana seorang anak menumbuhkan rasa kebersamaan dan memberikan dukungan kepada rekannya. Misalnya, saat bermain peran (role-play), anak diberikan ruang untuk berimajinasi menjadi karakter tertentu.

Aktivitas ini sangat berguna untuk memunculkan ide-ide baru, membangun kemampuan komunikasi, serta memperkuat keterampilan sosial yang kompleks.

Bermain peran juga terbukti efektif dalam membangun rasa percaya diri dan mereduksi tingkat kecemasan pada anak. Dengan berpura-pura berada dalam situasi tertentu, anak belajar menguasai keadaan dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi dalam skenario permainan tersebut.

Proses ini merupakan latihan kognitif yang krusial untuk melatih kemandirian sejak dini.

Load More