Suara.com - Antusiasme masyarakat urban terhadap aktivitas fisik, seperti lari, terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sebanyak 62,6 persen penduduk Indonesia telah memenuhi kategori cukup beraktivitas fisik. Di balik tren positif ini, risiko cedera ringan seperti nyeri otot dan memar juga semakin sering terjadi.
Dalam perspektif kedokteran olahraga, cedera tidak selalu berupa kondisi berat seperti patah tulang atau robekan ligamen. Kasus yang paling umum justru berkaitan dengan inflamasi atau peradangan akibat penggunaan otot berlebihan.
Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Zeth Boroh, Sp.KO, menekankan bahwa penanganan cedera tidak cukup hanya berfokus pada meredakan rasa sakit, tetapi juga mempercepat proses pemulihan jaringan.
“Tujuannya supaya proses inflamasi cepat selesai dan tidak memperburuk keadaan,” ujarnya dalam peluncuran meluncurkan Thrombovoren Emulgel, di Artotel Thamrin Jakarta, Rabu (16/4/2026).
Hal serupa disampaikan atlet lari nasional, Triyaningsih. Ia mengaku nyeri otot dan memar menjadi bagian dari risiko yang tak terpisahkan dari rutinitas latihan. Dalam kondisi tersebut, pemulihan yang cepat menjadi kunci agar performa tetap terjaga.
“Sebagai atlet, kita harus tetap bisa aktif, makanya recovery-nya harus bagus,” katanya.
Kebutuhan akan penanganan yang praktis juga dirasakan oleh masyarakat aktif. Nyeri dan memar kerap muncul bersamaan, namun sering ditangani secara terpisah. Kondisi ini mendorong hadirnya solusi yang menggabungkan dua fungsi sekaligus dalam satu produk.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Trombovoren Emulgel, yang mengombinasikan Diclofenac Diethylamine untuk meredakan nyeri dan Heparin Sodium untuk membantu mengatasi memar.
Baca Juga: Nasib Sial Kevin Diks: Dibekap Cedera, Gladbach Terancam Degradasi
Marketing Product Manager Thrombovoren , Kurniawan, menyebut pendekatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang tinggi.
Dengan penanganan yang tepat, risiko cedera ringan akibat aktivitas fisik dapat dikelola lebih baik, sehingga masyarakat tetap bisa menjalani gaya hidup aktif tanpa terganggu rasa nyeri berkepanjangan.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan