Health / Konsultasi
Jum'at, 17 April 2026 | 12:31 WIB
Ilustrasi olahraga lari. [Freepik.com/jcomp]

Suara.com - Antusiasme masyarakat urban terhadap aktivitas fisik, seperti lari, terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sebanyak 62,6 persen penduduk Indonesia telah memenuhi kategori cukup beraktivitas fisik. Di balik tren positif ini, risiko cedera ringan seperti nyeri otot dan memar juga semakin sering terjadi.

Dalam perspektif kedokteran olahraga, cedera tidak selalu berupa kondisi berat seperti patah tulang atau robekan ligamen. Kasus yang paling umum justru berkaitan dengan inflamasi atau peradangan akibat penggunaan otot berlebihan.

Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Zeth Boroh, Sp.KO, menekankan bahwa penanganan cedera tidak cukup hanya berfokus pada meredakan rasa sakit, tetapi juga mempercepat proses pemulihan jaringan.

“Tujuannya supaya proses inflamasi cepat selesai dan tidak memperburuk keadaan,” ujarnya dalam peluncuran meluncurkan Thrombovoren Emulgel, di Artotel Thamrin Jakarta, Rabu (16/4/2026).

Ilustrasi Lari - Sepatu Lari Lokal untuk Half Marathon (Unsplash)

Hal serupa disampaikan atlet lari nasional, Triyaningsih. Ia mengaku nyeri otot dan memar menjadi bagian dari risiko yang tak terpisahkan dari rutinitas latihan. Dalam kondisi tersebut, pemulihan yang cepat menjadi kunci agar performa tetap terjaga.

“Sebagai atlet, kita harus tetap bisa aktif, makanya recovery-nya harus bagus,” katanya.

Kebutuhan akan penanganan yang praktis juga dirasakan oleh masyarakat aktif. Nyeri dan memar kerap muncul bersamaan, namun sering ditangani secara terpisah. Kondisi ini mendorong hadirnya solusi yang menggabungkan dua fungsi sekaligus dalam satu produk.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Trombovoren Emulgel, yang mengombinasikan Diclofenac Diethylamine untuk meredakan nyeri dan Heparin Sodium untuk membantu mengatasi memar.

Baca Juga: Nasib Sial Kevin Diks: Dibekap Cedera, Gladbach Terancam Degradasi

Marketing Product Manager Thrombovoren , Kurniawan, menyebut pendekatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang tinggi.

Dengan penanganan yang tepat, risiko cedera ringan akibat aktivitas fisik dapat dikelola lebih baik, sehingga masyarakat tetap bisa menjalani gaya hidup aktif tanpa terganggu rasa nyeri berkepanjangan.

Penulis: Natasha Suhendra

Load More