Health / Women
Kamis, 23 April 2026 | 16:09 WIB
dr. Dinda Derdameysia, Sp.OG. (dok. Wings)
Baca 10 detik
  • Kurangnya edukasi dan fasilitas sanitasi menyebabkan satu dari tujuh remaja putri di Indonesia absen sekolah saat menstruasi.
  • WINGS for UNICEF bersama Hers Protex menyelenggarakan program edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi bagi 2.000 siswi di sekolah tertentu.
  • Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi agar remaja putri lebih percaya diri dan tetap aktif bersekolah.

Suara.com - Menstruasi sering kali masih dianggap sekadar datang bulan yang akan terjadi begitu saja seiring bertambahnya usia. Padahal, di balik proses biologis ini, ada banyak hal penting yang perlu dipahami—mulai dari tanda-tanda pubertas, kesiapan tubuh, hingga cara menjaga kebersihan dan kesehatan selama menstruasi. Kurangnya informasi yang tepat membuat banyak remaja putri menghadapi fase ini dengan kebingungan, bahkan rasa cemas yang tidak perlu.

Faktanya, menstruasi masih menjadi topik yang canggung dibicarakan di banyak ruang, termasuk sekolah. Padahal, dampaknya nyata: data UNICEF menunjukkan 1 dari 7 remaja putri di Indonesia memilih tidak masuk sekolah setidaknya satu hari saat menstruasi.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan persoalan yang lebih dalam—mulai dari kurangnya edukasi, keterbatasan fasilitas sanitasi, hingga rasa cemas yang dialami remaja saat menghadapi perubahan tubuhnya.

Di tengah kondisi ini, pendekatan edukasi yang lebih terbuka dan berbasis sains mulai didorong. Salah satunya melalui kolaborasi WINGS for UNICEF bersama Hers Protex dan UNICEF yang menghadirkan program edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di sekolah. Program ini menyasar 20 SMP di Kabupaten Bandung Barat dan Makassar, dengan target menjangkau 2.000 siswi dan 2.000 orang tua.

Namun, lebih dari sekadar program, isu ini menuntut pemahaman yang lebih menyeluruh: apa sebenarnya yang perlu diketahui remaja tentang menstruasi?

Menstruasi Bukan Sekadar Datang Bulan

Bagi banyak remaja, menstruasi sering kali dipahami sebagai peristiwa biologis semata. Padahal, menurut dr. Dinda Derdameysia, Sp.OG., menstruasi adalah bagian dari proses panjang pubertas yang melibatkan perubahan fisik dan emosional.

“Menstruasi itu sebenarnya adalah akhir dari rangkaian pubertas. Jadi sebelum itu, tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda lain seperti pertumbuhan payudara atau munculnya rambut di area tertentu,” jelas dr. Dinda.

Ia menekankan, memahami proses ini penting agar remaja tidak merasa cemas atau “tertinggal” ketika tubuhnya berkembang berbeda dengan teman sebayanya.

Baca Juga: Viral! Cowok 18 Tahun Masuk IGD Ngaku Menstruasi, Dokter Ungkap Fakta Pilu di Baliknya

Fenomena ini kerap terjadi. Banyak remaja merasa khawatir saat teman-temannya sudah menstruasi lebih dulu.

“Sekarang anak-anak sering merasa FOMO. Ketika temannya sudah menstruasi, dia jadi bertanya-tanya, ‘kok aku belum?’ Padahal tiap anak punya timeline berbeda,” tambahnya.

Usia Ideal Menstruasi, Kapan Harus Khawatir?

Salah satu pertanyaan paling umum adalah: kapan menstruasi pertama (menarche) dianggap normal?

Menurut dr. Dinda, secara umum menstruasi pertama terjadi pada usia 10–11 tahun. Namun, variasi tetap dianggap normal selama masih dalam rentang tertentu.

“Kalau sampai usia 14 tahun belum ada tanda pubertas sama sekali, seperti pertumbuhan payudara atau rambut, itu sebaiknya diperiksakan. Tapi kalau tanda pubertas sudah ada, masih bisa ditunggu sampai usia 16 tahun,” jelasnya.

Artinya, orang tua dan remaja perlu memperhatikan tanda-tanda pubertas secara keseluruhan, bukan hanya menstruasi.

Ia juga meluruskan mitos lama soal hubungan antara menstruasi dini dan menopause.

“Dulu ada anggapan kalau menstruasi pertama datang lebih cepat, menopause juga akan lebih cepat. Itu tidak sepenuhnya benar. Menopause lebih dipengaruhi kualitas sel telur dan faktor genetik,” ujarnya.

Tantangan Nyata: Minim Edukasi dan Fasilitas

Selain pemahaman yang belum merata, tantangan lain datang dari lingkungan. Data Kementerian Pendidikan menunjukkan rasio toilet di sekolah masih jauh dari ideal—1:74 untuk siswi perempuan.

Kondisi ini membuat banyak remaja merasa tidak nyaman selama menstruasi, terutama saat harus mengganti pembalut atau menjaga kebersihan diri di sekolah.

Muhammad Zainal, Water Sanitation and Hygiene Specialist UNICEF Indonesia, menilai bahwa akses terhadap fasilitas dan edukasi harus berjalan beriringan.

“Tanpa lingkungan yang mendukung, remaja putri akan kesulitan menjalani aktivitas belajar secara optimal saat menstruasi,” ujarnya.

Dari Edukasi ke Kebiasaan Sehari-hari

Program edukasi seperti yang dijalankan WINGS for UNICEF bersama Hers Protex mencoba menjembatani kesenjangan ini. Tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membangun kebiasaan.

Materi yang diberikan mencakup cara menjaga kebersihan selama menstruasi, memilih produk yang tepat, hingga pentingnya dukungan dari keluarga dan sekolah.

“Dengan pemahaman yang baik, remaja putri bisa lebih percaya diri dan tetap aktif saat menstruasi,” ujar Stella Eidelina dari WINGS Group.

Pendekatan ini penting karena kebersihan menstruasi bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga berkaitan dengan kepercayaan diri dan partisipasi sosial remaja.

Peran Orang Tua dan Sekolah Tak Bisa Digantikan

Di luar program dan kampanye, peran terbesar tetap ada di lingkungan terdekat: keluarga dan sekolah.

Orang tua perlu menjadi sumber informasi pertama yang aman dan terbuka. Sementara sekolah harus memastikan fasilitas dan suasana yang mendukung.

Menurut dr. Dinda, kombinasi keduanya akan menentukan bagaimana remaja menjalani masa pubertas.

“Edukasi sejak dini, lingkungan yang suportif, serta kebiasaan menjaga kebersihan akan membantu remaja melewati masa ini dengan sehat dan percaya diri,” tutupnya.

Load More