Health / Konsultasi
Selasa, 12 Mei 2026 | 17:02 WIB
Potret Ibu Hamil (Pexels/PNW Production)

Suara.com - Perubahan iklim global ternyata membawa tantangan baru bagi para ibu hamil. Bagi masyarakat umum, cuaca yang semakin panas mungkin hanya membuat tubuh terasa tidak nyaman. Namun bagi ibu hamil, suhu panas dapat menjadi ancaman serius yang memengaruhi keselamatan ibu maupun janin.

Setiap tahunnya terdapat sekitar 4,8 juta ibu hamil di Indonesia berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Di sisi lain, suhu udara di Jakarta yang semakin panas menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan ibu hamil.

Mekanisme Tubuh dan Risiko Komplikasi

Dilansir dari BBC (12/5/2026) yang mengutip jurnal "Physiological Mechanisms of The Impact of Heat During Pregnancy", tubuh ibu hamil harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu inti tubuh tetap normal. Ketika suhu lingkungan meningkat, sistem pendingin alami tubuh seperti produksi keringat akan bekerja lebih aktif.

Namun, kelembapan udara yang tinggi sering kali menghambat proses penguapan keringat sehingga risiko dehidrasi hingga serangan panas atau heatstroke meningkat.

Kondisi tersebut juga berdampak langsung pada janin. Saat suhu tubuh ibu meningkat, aliran darah akan lebih banyak bergerak menuju permukaan kulit untuk membantu melepaskan panas. Sayangnya, kondisi ini dapat mengurangi aliran darah menuju plasenta sehingga janin berisiko kekurangan oksigen dan nutrisi.

Ahli epidemiologi dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, Sari Kovats, mengatakan bahwa paparan panas dapat sangat berisiko pada kondisi bayi

“Jika Anda mengalami kepanasan di awal kehamilan, Anda berisiko menyebabkan cacat lahir pada anak Anda,” ujarnya.

Selain itu, berkurangnya aliran darah ke plasenta juga dapat memicu preeklamsia, yakni komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi. Risiko kelahiran prematur pun ikut meningkat akibat paparan suhu panas berlebih.

Baca Juga: Tak Selalu Berhasil, Peneliti Soroti Tantangan Gang Hijau di Kota Padat Penduduk

Dampak suhu panas terhadap ibu hamil juga terlihat dalam penelitian berjudul "Environmental Heat Stress on Maternal Physiology and Fetal Blood Flow in Pregnant Subsistence Farmers in The Gambia, West Africa: an Observational Cohort Study".

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celsius dapat meningkatkan risiko ketegangan pada janin hingga 17 persen. Paparan panas ekstrem juga berpotensi menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, yakni di bawah 2,5 kilogram, hingga meningkatkan risiko bayi lahir mati atau stillbirth.

Dokter kadungan dan ginekologi dari Atrium Health, Caroline Cochrane, menegaskan bahwa dehidrasi akibat suhu panas dapat berdampak pada komplikasi pada ibu hamil. 

“Suhu tubuh yang tinggi dan dehidrasi telah dikaitkan dengan komplikasi terkait kehamilan. Misalnya, dehidrasi dapat menyebabkan peningkatan kontraksi, cairan amnion yang rendah, dan penurunan produksi ASI,” ujar Caroline.

Perlindungan Kelompok Rentan Melalui Edukasi dan Kesiapan Tenaga Medis 

Melihat berbagai risiko tersebut, langkah perlindungan bagi ibu hamil perlu diperkuat, baik melalui edukasi maupun penyediaan fasilitas pendingin di ruang publik dan fasilitas kesehatan.

Load More