- Polresta Sleman mengevakuasi 11 bayi dari sebuah rumah di Pakem, Sleman, yang dipindahkan dari klinik bidan di Banyuraden.
- Polisi menyelidiki klinik bidan berizin resmi tersebut karena diduga menyelenggarakan praktik penitipan bayi tanpa izin operasional yang sah.
- Sebanyak 11 saksi termasuk bidan dan orang tua bayi telah diperiksa polisi untuk mendalami proses evakuasi bayi tersebut.
Suara.com - Aktivitas di sebuah klinik bidan di Banyuraden, Gamping, Sleman tengah menjadi sorotan usai 11 bayi yang lahir di sana dievakuasi polisi dari sebuah rumah di Padukuhan Randu, Dusun Wonokerso, Hargobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.
"Bayi itu dilahirkan di bidan di Banyuraden (Gamping) itu, salah satu bidan di sana," kata Kasatreskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit, dikutip, Selasa (12/5/2026).
Adapun 11 bayi itu baru dipindahkan dari klinik di Gamping ke Pakem kurang lebih sepekan terakhir.
Berdasarkan pantauan Suara.com di klinik bidan tersebut, lokasi yang diduga menjadi tempat asal bayi-bayi tersebut terpantau masih menjalankan aktivitas pelayanan kesehatan seperti biasa.
Klinik itu berada di bangunan yang merupakan sebuah rumah tinggal di dalam perkampungan. Pada bagian depan teras, terpasang papan nama resmi serta spanduk besar berwarna merah muda yang merinci layanan medis seperti persalinan 24 jam, pelayanan ibu hamil, KB, hingga imunisasi.
Sejumlah sepeda motor tampak terparkir di halaman rumah yang menunjukkan adanya aktivitas kunjungan pasien.
Berdasarkan pendalaman kepolisian, klinik bidan itu memang memiliki izin resmi.
"Mengenai bidan itu juga kita perdalam, untuk praktik kebidanannya ada izinnya tapi untuk semacam penitipannya ini belum," ucap Wiwit.
Sementara itu, ditemui di lokasi, Marwoto, selaku pemilik rumah yang dikontrak oleh bidan tersebut, mengonfirmasi bahwa penyewa rumahnya sudah beroperasi di lokasi itu selama satu tahun terakhir. Ia menyebut pembayaran sewa dilakukan secara rutin setiap bulannya.
Baca Juga: 7 Fakta Penemuan 11 Bayi di Sleman, Berawal dari Kecurigaan Warga hingga Biaya Penitipan Rp 50 Ribu
"Kurang lebih satu tahun (beroperasi) tapi (pembayarannya) bulanan," ujar Marwoto.
Selama masa kontrak tersebut, Marwoto mengaku mengetahui adanya aktivitas penitipan bayi di rumah tersebut. Namun, ia memahami keberadaan bayi-bayi itu hanya sebagai penitipan sementara bagi pasien yang telah melahirkan namun belum sempat menjemput anaknya.
"Tahu-nya kan katanya belum diambil dari yang melahirkan itu aja, setau saya tahu gitu. Tapi yang jelasnya juga nggak tahu, yang penting ada penitipan (anak) sebelum diambil katanya seperti itu," jelasnya.
Namun, ia bilang tidak mengetahui informasi soal bidan yang menerima persalinan dari pasangan belum menikah.
Lebih lanjut, Marwoto mengakui aparat kepolisian telah mendatangi lokasi rumah kontrakan tersebut untuk melakukan penelusuran lebih lanjut beberapa waktu lalu.
Namun memang saat ini operasional praktik bidan tetap berjalan aman. Ia merasa tidak ada masalah dengan kelanjutan kontrak di rumah miliknya.
Berita Terkait
-
7 Fakta Penemuan 11 Bayi di Sleman, Berawal dari Kecurigaan Warga hingga Biaya Penitipan Rp 50 Ribu
-
Dinsos Sleman: Asesmen Ketat Menanti Orang Tua yang Ingin Jemput Bayi di Penitipan Ilegal
-
Selly Gantina Soroti Temuan 11 Bayi di Sleman, Minta Negara Utamakan Perlindungan Anak
-
Geger Temuan 11 Bayi di Sleman, DPR: Negara Tak Boleh Biarkan Mereka Jadi Korban
-
RSUD Sleman Rawat Tiga Bayi Kasus Pakem, Perlakuan Selama di Penitipan Jadi Sorotan
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Wakil Presiden Dimakzulkan DPR! Perang Dinasti Politik Filipina Memanas Jelang Pemilu 2028
-
Sulit Datangkan Andrie Yunus, Oditur Militer Buka Opsi Hadirkan Dokter RSCM ke Persidangan
-
Jawab Tantangan Pasar Digital, Shopee Kucurkan Lebih Dari Rp100 Miliar Untuk Perkuat UMKM Lokal
-
Gudang Miami Kalideres Masih 'Mendidih': Letupan Freon dan Asap Beracun Hambat Pendinginan
-
Soal LCC Empat Pilar, Cucun Protes Keras ke Setjen MPR: Angkat Juri yang Bener
-
Dyastasita Juri LCC Empat Pilar MPR Pernah Diperiksa KPK soal Kasus Suap Rp 17 Miliar
-
Peneliti Ungkap Dua Ancaman Besar Ketahanan Pangan Indonesia, Apa Saja Itu?
-
Sisi Lain Perlintasan Liar: Ladang Ekonomi Warga Bantaran, Ada yang Raup Rp500 Ribu Sehari
-
Donald Trump Ingin Venezuela Jadi Negara Bagian AS, Preisden Delcy Rodriguez Buka Suara
-
7 Fakta Penemuan 11 Bayi di Sleman, Berawal dari Kecurigaan Warga hingga Biaya Penitipan Rp 50 Ribu