Tekan Stunting di Maluku Utara, Edukasi Gizi Diperkuat hingga Tingkat Keluarga

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:35 WIB
Tekan Stunting di Maluku Utara, Edukasi Gizi Diperkuat hingga Tingkat Keluarga [istimewa]
  • PP Muslimat NU dan YAICI melatih lebih dari 200 kader untuk mengedukasi masyarakat Maluku Utara terkait pencegahan stunting.
  • Kegiatan kunjungan rumah di Kecamatan Kota Baru menemukan alasan orang tua mengganti susu anak dengan kental manis karena faktor ekonomi dan kendala ASI.
  • Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengapresiasi kolaborasi organisasi masyarakat dalam memperkuat edukasi gizi keluarga guna menurunkan prevalensi stunting daerah.

Suara.com - Upaya penanganan stunting di Maluku Utara terus dilakukan melalui penguatan edukasi gizi di tingkat masyarakat. Pemahaman orang tua mengenai kebutuhan nutrisi anak menjadi salah satu hal yang dinilai penting untuk mendukung tumbuh kembang sekaligus mencegah terjadinya stunting.

Wakil Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, dr Erna Yulia Soefihara mengatakan pihaknya memanfaatkan jaringan organisasi hingga tingkat akar rumput untuk memberikan edukasi gizi.

“Intinya adalah pendekatan personal, pendekatan dari hati ke hati. Seorang ustazah pasti akan lebih dekat dengan jemaah,” ujar Erna dalam pernyataan resminya.

Maluku Utara hingga kini masih mencatat prevalensi stunting sebesar 23,3 persen atau berada di atas angka nasional. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk memperkuat upaya pencegahan, termasuk melalui edukasi yang menyasar keluarga dan komunitas.

PP Muslimat NU memberikan edukasi kepada lebih dari 200 kader. Para kader tersebut diharapkan dapat meneruskan informasi mengenai pemenuhan gizi anak kepada masyarakat di lingkungan masing-masing, termasuk memberikan pemahaman mengenai penggunaan kental manis yang tidak tepat sebagai pengganti susu untuk anak.

Menurut Erna, pengurus majelis taklim dan ustazah memiliki kedekatan dengan jemaah. Hubungan tersebut dinilai dapat membantu penyampaian informasi mengenai gizi secara lebih personal dan mudah diterima.

Selain memberikan edukasi, PP Muslimat NU bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) melakukan kunjungan rumah ke sejumlah keluarga di Kecamatan Kota Baru, Ternate.

Kunjungan tersebut bertujuan menggali faktor yang menyebabkan sebagian orang tua memilih kental manis sebagai pengganti susu bagi anak dan balita.

Sekretaris Jenderal YAICI Satria Yudistira mengatakan, alasan umum orang tua memilih kental manis sebagai pengganti susu untuk anak karena ibu terkendala dalam memberikan ASI. Karena ASI tidak keluar sehingga akhirnya asupan untuk anak digantikan oleh kental manis.

“Selain karena kesulitan memberikan ASI, orang tua beralih ke produk kental manis karena harganya dianggap lebih ekonomis,” jelas Satria.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya edukasi yang tidak hanya membahas jenis makanan dan minuman, tetapi juga memahami kondisi yang dihadapi keluarga. Dengan informasi yang tepat, orang tua diharapkan dapat menentukan pilihan asupan sesuai kebutuhan tumbuh kembang anak.

Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe turut mengapresiasi kegiatan edukasi yang menyentuh langsung masyarakat.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada Muslimat dan YAICI, dan juga seluruh kader yang melakukan edukasi untuk masyarakat,” ujar Sarbin Sehe.

Kolaborasi pemerintah, organisasi masyarakat, kader, dan tenaga kesehatan diharapkan dapat memperkuat pencegahan stunting melalui edukasi yang konsisten, khususnya dari tingkat keluarga dan komunitas.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com