/
Rabu, 04 Mei 2022 | 12:15 WIB
Freepik/kjpargeter

Indotnesia - Ilmuwan dari The Ohio State University yang tergabung dalam Tara Oceans Consortium, telah menyelesaikan penelitian analisis air laut dari seluruh dunia. Berdasarkan hasil penelitian, mereka menemukan sekitar 5.000 spesies virus RNA baru di bawah laut

Para peneliti dari proyek global untuk mempelajari dampak perubahan iklim di lautan itu menyebut, dari 35.000 sampel air yang diambil di 121 lokasi di kelima lautan dunia, mereka mengambil sampel virus RNA atau virus yang memiliki RNA (asam ribonukleat) sebagai materi genetiknya.

Sejumlah virus RNA yang telah dikenal sejauh ini diantaranya adalah virus corona penyebab Covid-19, Influenza, dan Ebola. 

Sedangkan virus yang baru ditemukan di lautan, memiliki keragaman yang besar. Oleh karena itu, peneliti mengusulkan agar jumlah taksonomi yang dibutuhkan untuk mengklasifikasikan virus RNA digandakan dari 5 filum menjadi 10 filum.

“Ada begitu banyak keragaman baru virus yang ditemukan dan seluruh filum baru ditemukan di seluruh lautan, menunjukkan mereka penting secara ekologis,” ungkap Matthew Sullivan, salah satu peneliti sekaligus profesor mikrobiologi, dikutip dari Suara.com pada Rabu (4/5/2022).

Filum adalah tingkatan klasifikasi organisme yang dalam biologi diurutkan mulai dari subfilum, kelas, ordo, famili, genus, dan spesies.

Sejumlah peneliti menyebut virus RNA jarang dipelajari dibandingkan dengan virus DNA yang menggunakan DNA sebagai materi genetiknya. Apalagi kecenderungan peneliti lebih fokus melakukan penelitian virus RNA pada virus yang menyebabkan penyakit.

Berdasarkan penemuan tersebut, virus RNA yang sebelumnya telah teridentifikasi hanyalah ‘bagian kecil’ dari jumlah total virus RNA di Bumi. Sedangkan ribuan virus RNA baru yang belum lama ini ditemukan oleh peneliti, masih perlu dipelajari lagi terutama terkait keberadaannya yang dapat menular ke manusia atau tidak.

“Kami ingin mempelajarinya (virus RNA) secara sistematis dalam skala yang sangat besar dan menjelajahi lingkungan yang belum pernah dilihat secara mendalam,” kata Sullivan, seperti dikutip dari Suara.com

Hasil penelitian yang diidentifikasi dengan analisis machine learning dan pohon evolusi tradisional tersebut, menemukan spesies virus RNA baru yang termasuk dalam lima filum lama, serta lima filum yang baru akan diusulkan.

Lima filum baru yang ditemukan oleh peneliti yaitu Taraviricota, Pomiviricota, Paraxenoviricota, Warnoviricota, dan Activiricota. Dari sejumlah filum tersebut, spesies virus dalam filum Taraviricota ditemukan banyak muncul di perairan beriklim sedang dan tropis. Sementara virus dalam filum Arctiviricota banyak muncul di Samudra Arktik.

Meski karakteristik virus RNA baru di lautan belum semuanya dapat teridentifikasi, memahami evolusi sekaligus mutasinya dapat memberikan pemahaman lebih baik untuk meminimalisir munculnya virus baru yang dapat membahayakan manusia.

Load More