/
Selasa, 21 Juni 2022 | 15:52 WIB
Instagram/stasiuntugudjogja

Indotnesia - Sebagai kota wisata, Yogyakarta menawarkan ragam bangunan bersejarah, salah satunya, Stasiun Tugu. Sejarah Stasiun Tugu berawal dari era penjajahan kolonial Belanda hingga kini menjadi stasiun kereta api kelas besar.

Stasiun Tugu atau dikenal sebagai Stasiun Yogyakarta merupakan landmark atau penanda kawasan yang menonjol di Kota Pelajar. Terletak di Sosromenduran, Gedongtengen, Kota Yogyakarta, stasiun ini terus berkembang seiring kemajuan alat transportasi kereta api di Jawa. 

Sejarah Stasiun Yogyakarta

Sejarah kereta api di Indonesia tak lepas dari pembangunan rel pertama Semarang - Temanggung pada 17 Juni 1864 di desa Kemijen Semarang yang diprakarsai oleh perusahaan swasta Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Lalu, pada 1872 jalur kereta api sudah sampai di Yogyakarta guna memperlancar arus distribusi hasil perkebunan yang banyak terdapat di wilayah Vorstenlanden atau daerah di bawah kekuasaan empat monarki pecahan Kesultanan Mataram, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman.

Pada awalnya stasiun terbesar di Yogyakarta adalah stasiun Lempuyangan yang diresmikan pada 2 Maret 1882 sekaligus menjadi tanda masuknya kereta api pertama kali di kota dengan julukan Kota Gudeg ini.

Kemudian NIS membangun stasiun Yogyakarta di sebelah barat Stasiun Lempuyangan dan mulai dibuka pada 12 Mei 1887. Stasiun tersebut dibangun untuk kebutuhan pengangkutan hasil bumi dari Jawa Tengah dan sekitarnya yang menghubungkan kota-kota di Yogyakarta - Solo - Semarang.

Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan Yogyakarta, stasiun dengan arsitektur unik bergaya art deco atau dekoratif modern tersebut memiliki fungsi yang sama sejak awal didirikan hingga sekarang yaitu sebagai alat transportasi.

Pada 1905, stasiun yang semula menjadi rute persinggahan pengangkutan barang, kemudian mulai melayani kereta penumpang terutama bagi para pembesar Belanda sebagai perantara persinggahan dari perjalanan kereta api ke perjalanan darat.

Sedangkan saat masa perjuangan kemerdekaan dan perang melawan penjajah, Stasiun Yogyakarta berperan sebagai tempat pemberangkatan dan kedatangan pejuang sekaligus jadi tujuan akhir perjalanan kereta luar biasa Ir. Soekarno, Presiden pertama RI saat memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta.

Perubahan Bangunan

Landmark tulisan stasiun Tugu Yogyakarta sisi selatan yang mengalami perubahan modernisasi. [Indotnesia/ Annisa Suryantari]

Saat awal berdiri, Stasiun Yogyakarta dibangun dengan model arsitektur klasik. Kemudian, dilakukan renovasi pada 1925 dengan mengubah bagian pintu masuk utama atau entrance hall berupa penambahan tiang persegi berjumlah 8 buah di bagian tengah bangunan.

Selang dua tahun kemudian, hall stasiun diperluas dan fasad atau muka bangunan diperbaiki menjadi bergaya art deco dengan bentuk-bentuk geometris serta garis-garis lurus yang memberikan kesan modern sekaligus mewah.

Stasiun yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta ini memiliki dua emplasemen atau tanah lapang yaitu di sebelah utara dan selatan; dan juga memiliki dua pintu masuk.

Pintu utama stasiun Yogyakarta terletak menghadap ke Jalan Margo Utomo atau Jalan Pangeran Mangkubumi yang sejajar dengan Tugu Yogyakarta dan hanya untuk keberangkatan kereta api antarkota.

Sedangkan pintu selatan, menghadap ke arah Jalan Pasar Kembang yang dikhususkan untuk keberangkatan dan kedatangan layanan kereta bandara, kereta api lokal,  KAI Commuter, dan kedatangan penumpang kereta api antarkota.

Load More