Indotnesia - Hari ini pada 26 Oktober diperingati sebagai 12 tahun pasca kejadian erupsi besar Gunung Merapi yang menewaskan ratusan korban jiwa, salah satunya adalah Mbah Maridjan sang juru kunci gunung.
Peristiwa yang terjadi pada 26 Oktober 2010 tersebut membawa luka mendalam bagi para korban yang kehilangan anggota keluarga maupun mereka yang terpaksa harus meninggalkan kampung halaman, karena tersapu oleh material Gunung Merapi.
Diketahui, erupsi Merapi pada 2010 memiliki ledakan yang lebih besar dibandingkan letusan yang pernah terjadi pada 1872.
Awal Mula Erupsi Merapi 2010
Aktivitas Gunung Merapi mulai berubah dari siaga menjadi awas pada 25 Oktober 2010 pukul 6 pagi.
Sebelumnya, status gunung yang siaga sejak 23 Oktober terpantau mengalami jumlah guguran material meningkat tajam dari di bawah 100 menjadi di atas 180 kali per hari.
Erupsi besar Gunung Merapi kemudian terjadi pada 26 Oktober 2010 pukul 17.58 WIB dengan diikuti sirine panjang yang memicu kepanikan warga sekitar.
Gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta itu lantas memuntahkan isi perutnya, lahar, bebatuan, debu, dan awan panas Wedhus Gembel meluluhlantakkan semua yang dilaluinya.
Pada waktu tersebut, setidaknya terjadi hingga tiga kali letusan diiringi dengan keluarnya awan panas setinggi 1,5 meter yang mengarah ke Kaliadem, Kepuharjo.
Baca Juga: Polisi Dilarang Lakukan Tilang Manual, Digantikan dengan Sistem ETLE
Selain mengakibatkan 341 orang meninggal dunia, tercatat erupsi Gunung Merapi itu menyebabkan 291 rumah rusak dan satu tanggul di Desa Ngepos jebol lantaran luapan lahar dingin yang dahsyat.
Kronologi Wafatnya Mbah Maridjan
Pada saat Gunung Merapi mulai memasuki status siaga hingga awas, Mbah Maridjan tetap bertahan di rumahnya yang terletak di Dusun Kinahrejo, berjarak sekitar 4 km dari puncak gunung.
Bersama beberapa warga Desa Pelemsari, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Mbah Maridjan bertahan di rumahnya dan tetap melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Juru kunci dengan nama asli Ki Surakso Hargo itu menolak untuk dievakuasi meski aktivitas Gunung Merapi sedang tinggi.
Alasannya, karena beliau merasa sudah mengucap sumpah sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta dan juru kunci gunung terbesar di pulau Jawa itu di hadapan Hamengkubuwono IX.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Ribuan Calon Jemaah Umrah Hanania Travel Gagal Berangkat, Negara Diminta Hadir Sesuai UU Terbaru!
-
Buntut Film Pesta Babi, Mama Sinta Asal Papua Polisikan Ketua LBH Merauke di Jakarta
-
Berapa Biaya Umrah di Hanania Travel? Diduga Tipu Calon Jemaah hingga Rugi Rp60 M
-
Predator: Badlands, Sajikan Tema Kesendirian dan Persahabatan Antar Spesies
-
Eropa Tegang! Vladimir Putin Ancam Bombardir Dua Negara NATO
-
Alarm Regresi Demokrasi, Menguatnya Kartelisasi Politik dan Ancaman Neo Otoritarianisme di Indonesia
-
Igor Tolic Angkat Bicara Usai Ditunjuk Jadi Pelatih Persib Bandung
-
Harga Pangan Hari Ini, Cabai Rawit Tembus Rp82.450 per Kg, Telur Ayam Rp30.500 per Kg
-
Buron! Bareskrim Kejar Bos New Zone Medan, Diduga Jadi Bandar Narkoba di Kelab Malam Miliknya
-
Innova Terjepit di Antara Dua Truk! Detik-Detik Kecelakaan Beruntun di Jalur Bojonegoro-Cepu