Indotnesia - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menanggapi video viral turis asing yang menuduh warga Desa Wisata Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat melakukan penipuan karena menawarkan harga suvenir maupun jasa yang mahal.
Lewat akun TikTok pribadinya @sandiuno.official, Menparekraf menegaskan bahwa tuduhan tersebut terjadi karena adanya kesalahan persepsi dan komunikasi akibat keterbatasan bahasa.
“Tidak ada penipuan di Desa Sade, Lombok! Kemarin sempat viral di TikTok terkait postingan wisatawan asing, Davud Akhundzada yang datang ke Desa Wisata Sade, Lombok, dan melakukan tuduhan bahwa para pelaku kreatif di desa tersebut melakukan penipuan,” tulis Sandiaga, pada Selasa (20/12/2022).
“Ini hanyalah kesalahan persepsi dan komunikasi yang disebabkan oleh keterbatasan bahasa. Jangan menggiring opini publik untuk membenci masyarakat Desa Sade,” lanjutnya.
Lebih lanjut, menteri berusia 53 tahun menjelaskan lewat pengalaman tersebut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berkomitmen untuk terus mengembangkan peningkatan keahlian bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
“Melalui pengalaman ini kami di Kemenparekraf berkomitmen untuk terus melakukan pelatihan dan peningkatan keahlian bagi para pelaku UMKM khususnya kemampuan berbahasa inggris di seluruh desa wisata Indonesia,” tutupnya dalam kolom keterangan unggahan video klarifikasi.
Diketahui, video viral turis asing tersebut juga diunggah di kanal YouTube Davud Akhundzada berjudul “Avoid This Scam Village in Lombok, Indonesia”.
Dalam keterangan video, ia menulis bahwa dirinya merasa kesulitan untuk berbaur dengan warga lokal Desa Wisata Sade, karena selalu dituntut untuk membayar sebelum mengizinkannya masuk dan menjelajahi desa.
Video YouTube yang diunggah pada 14 Desember 2022 itu lantas banjir komentar warganet Indonesia.
Baca Juga: John Mayer Ungkap Terima Kasih Khusus untuk Fan Indonesia, Ini Penyebabnya
Sejumlah warganet menjelaskan bahwa harga untuk suvenir wajar memiliki harga mahal karena dibuat secara tradisional dalam beberapa hari, bahkan bisa sampai berbulan-bulan lamanya.
“Scam adalah ketika Anda mendapatkan barang tidak sebanding dengan harga yang Anda bayar. Untuk selembar kain, “tenun” bisa dibuat berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Dia memberikan harga tenun yang adil,” komentar salah seorang warganet.
Tag
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Episode 5 dan 6 The Scarecrow Bikin Penonton Ikut Mikir Keras
-
Brass Monkeys: Kenapa yang Jelas Lebih Baik Justru Tidak Dipilih?
-
Warga Perumahan Taman Mangu Indah Bantah Isu Banyak Rumah Dijual Akibat Banjir
-
Bikin Film 'Napi: Pesan dari Dalam', Erick Estrada Boyong Penghuni Lapas jadi Aktor
-
Tol Bocimi KM 72 Longsor! Jalur Arah Bogor dan Jakarta Ditutup Sementara
-
Identitas Korban Bus ALS di Muratara Mulai Terungkap, Ini Daftar Nama yang Sudah Teridentifikasi
-
5 Poin Panas Polemik PSEL Bogor: Mulai dari Ancaman Kesehatan Hingga Tawaran Studi Banding ke China
-
Bus ALS yang Terbakar di Muratara Ternyata Bawa Motor dan Tabung Gas Elpiji
-
5 Rekomendasi Brand Sepatu Lokal Terbaik yang Sedang Trend di Tahun 2026, Gaya Kamu Auto Naik Level
-
5 Rekomendasi Wisata Karawang Wajib Kamu Kunjungi Bareng Keluarga, Dijamin Seru dan Edukatif