- Syahganda Nainggolan menilai Presiden Prabowo fokus pada visi geopolitik membawa Indonesia setara negara adidaya dunia.
- Pidato Prabowo terbaru kerap menonjolkan narasi sejarah, merujuk tokoh Majapahit dan perjuangan anti-kolonialisme modern.
- Mantan Presiden Jokowi diduga tidak lagi menjadi prioritas strategis dalam pengambilan keputusan besar di era Prabowo.
Suara.com - Politikus sekaligus aktivis Indonesia Syahganda Nainggolan menilai Presiden Prabowo Subianto kini tengah bertransformasi menjadi pemimpin dengan visi historis dan geopolitik yang besar.
Di sisi lain, Syahganda menyebut sosok mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemungkinan besar tidak lagi menjadi pertimbangan utama dalam lingkaran strategis Prabowo.
Menurut Syahganda, Prabowo saat ini sedang fokus pada upaya membawa Indonesia keluar dari zona "negara lapis kedua" menuju jajaran negara yang super power untuk bersanding dengan Amerika Serikat, China, dan Rusia.
"Dalam suasana berpikir yang sangat besar seperti ini, menurut saya orang-orang seperti Jokowi itu mungkin tidak pernah lagi dipikirkan oleh Prabowo," ujar Syahganda dalam kanal Youtube Bambang Widjojanto, pada Rabu (4/2/2026).
Dirinya juga menyoroti isi pidato-pidato terbaru Prabowo, salah satunya di Sentul saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, yang dinilai sangat kental dengan narasi sejarah dan nasionalisme.
Ia mencatat bagaimana Prabowo menarik garis historis dari kejayaan Majapahit, Gajah Mada, hingga perjuangan Pangeran Diponegoro untuk menghadapi tantangan kolonialisme modern dan guncangan politik global.
"Dia sering mengatakan bahwa dia adalah keturunan langsung dari Diponegoro dan dia bicara tentang kolonialisme oleh bangsa asing itu kan dia menarik sejarah ke mana situs-situs Majapahit, situs Bung Tomo punya radio apa namanya, dan lain-lain," ungkapnya.
Sebaliknya, Syahganda melihat posisi Jokowi kian meredup di era kepemimpinan Prabowo. Ia menduga ada kekhawatiran di lingkaran Jokowi karena tidak lagi dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis yang bersifat makro.
"Mungkin Jokowi atau orang-orang yang masih ikut Jokowi stres lihat Prabowo ya kan kok kita nggak diajak lagi ya, kan nggak pernah lagi diajak ikut mikir,” katanya.
Baca Juga: Wasekjen PSI Ibaratkan Jokowi Tanpa Piala Dunia, Menang Pemilu 2029 Jadi Penutup Karier
Ia juga membandingkan panggung yang dimiliki kedua tokoh tersebut. Menurutnya, Prabowo memiliki legitimasi intelektual dan dukungan luas, terbukti dengan kehadirannya di depan ribuan profesor dan tokoh-tokoh agama di Istana.
Sementara itu, ia mempertanyakan institusi mana yang masih berminat mengundang Jokowi untuk melakukan pidato besar.
"Kalau misalkan Prabowo kan 1.200 profesor ya diundang dia pidato ya, ini juga kalau nggak salah umat-umat Islam, tokoh-tokoh Islam semua diundang mungkin 1.000 di istana. Siapa yang mau ngundang Jokowi? Kan kita enggak tahu,” jelas Syahganda.
Lebih lanjut, Syahganda juga membandingkan posisi Jokowi dengan para mantan presiden lainnya seperti Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Ia menilai Megawati dan SBY masih memiliki basis kekuatan yang stabil melalui partai politik masing-masing.
Sementara untuk Jokowi, ia memprediksi mantan wali kota Solo itu akan sulit mempertahankan pengaruhnya di masa depan.
Berita Terkait
-
Cak Imin dan Jajaran PKB Bertemu Tertutup dengan Presiden Prabowo, Ada Apa?
-
Prabowo Bakal Tambah Polisi Hutan Jadi 70.000 Personil
-
Titik Balik Diplomasi RI: Pengamat Desak Prabowo Buktikan Kedaulatan Lawan 'Gertakan' Donald Trump
-
Hashim: Prabowo Tak Omon-omon Soal Perlindungan Lingkungan
-
Pramono Anung 'Gaspol' Perintah Gentengisasi Prabowo, Hunian Baru di Jakarta Tak Boleh Pakai Seng
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Setelah Hancurkan Patung Yesus Kini Tentara Israel Lecehkan Patung Bunda Maria
-
Siapkan Dana Haji Lebih Terstruktur, BNI Andalkan Fitur Life Goals di wondr
-
Viral Pemotor di Cikarang Tabrak Penyapu, Pura-pura Menolong Lalu Kabur Sambil Buang Sandal Korban!
-
TB Hasanuddin: Kritik Pemerintah Bukan Ekstremisme, Perpres 8/2026 Rawan Multitafsir
-
Siasat Licin Kiai AS Hindari Polisi, Kabur ke Wonogiri Naik Travel Demi Tak Terlacak
-
Soal Homeless Media jadi Mitra Bakom, Indonesia New Media Forum Buka Suara
-
Kapolri Minta Jajaran Polri Perkuat Sinergi dengan APH Hadapi Dinamika Global
-
Viral Aksi Bejat Pria Rekam Rok Penumpang dari Kolong Peron Stasiun Kebayoran, Polisi Buru Pelaku
-
Cari Keadilan! Keluarga Korban Kekerasan TNI Serahkan Kesimpulan Gugatan UU Peradilan Militer ke MK
-
Orang Dekat Bobby Nasution Diperiksa KPK dalam Kasus Dugaan Suap Proyek PUPR Sumut