Kekalahan Timnas Indonesia di leg kedua babak semifinal AFF Mitsubishi Electric Cup 2022 atas Vietnam telah memupuskan harapan skuat Garuda untuk mengangkat gelar juara di turnamen dua tahunan ini.
Kegagalan tersebut bukanlah tanpa alasan, setidaknya terdapat beberapa faktor yang membuat Timnas Indonesia tidak bisa mencapai target mereka untuk mejadi kampiun para turnamen ini. Berikut tiga faktor yang menjadi kegagalan skuat Garuda di ajang Piala AFF Mitsubishi Electric Cup 2022:
Tidak Bergabungnya Pemain Keturunan
Seperti yang telah diketahui bersama jika tidak bergabungnya dua pemain keturunan Sandy Walsh dan Elkan Baggott menjadi salah satu faktor kegagalan Timnas Indonesia di ajang AFF kali ini. Pengalaman dan kemampuan kedua pemain tersebut tentunya akan menambah kekuatan tim Merah Putih.
Terhentinya Kompetisi Liga 1
Salah satu faktor lainnya adalah dihentikannya Liga 1 akibat tragedi Kanjuruhan yang memakan ratusan korba jiwa. Berhentinya kompetisi tentu sangat berpengaruh terhadap mental bermain skuat Garuda.
Cederanya Dimas Drajad
Sosok striker di lini depan Indonesia dapat dikatakan lemah sepanjang turnamen ini. Hal itu terbukti saat banyak peluang yang terbuang sia-sia. Cederanya Dimas Drajad disebut-sebut menjadi salah satu fakto kegagalan Timnas Indonesia di ajang Piala AFF Mitsubishi Electric Cup 2022.
"Shin Tae Yong memang tak sepenuhnya patut disalahkan atas kegagalan timnas di AFF tahun ini. Namun, banyak juga keputusan-keputusan Coach Shin yang patut dipertanyakan. Seperti memanggil M.Rafli dan percaya kepada pemain abroad yang jarang mendapatkan menit bermain diklubnya seperti Egy Maulana," ungkap salah seorang netizen.
Baca Juga: Profil Lee Jae-gun, Pemain Liga Kamboja yang akan Gabung Klub BRI Liga 1
"Entah gimana proses pemilihan pemainnya, tapi emang pemainnya aja yang angin-anginan, apalagi lini depan, tidak ada striker yang bener-bener striker, mengharap naturalisasi, kenapa engga nyetak sendiri? Buat akademi sepakbola yang berkualitas, latih striker yang bener-bener striker, percuma naturalisasi kalau yang dinaturalisasi udah tua, tulangnya udah rapuh, yang seharusnya dirubah bibitnya bukan pelatihnya, lagian sty juga udah lumayan, ibarat taneman siapapun yang manen hasilnya sama aja, beda kalau dirubah dari bibitnya, gimana cara nanamnya, apa pupuknya dll," ujar netizen satunya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung
-
Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien