/
Selasa, 10 Januari 2023 | 19:59 WIB
Timnas Indonesia saat menjamu Vietnam (ANTARA)

Kekalahan Timnas Indonesia di leg kedua babak semifinal AFF Mitsubishi Electric Cup 2022 atas Vietnam telah memupuskan harapan skuat Garuda untuk mengangkat gelar juara di turnamen dua tahunan ini.

Kegagalan tersebut bukanlah tanpa alasan, setidaknya terdapat beberapa faktor yang membuat Timnas Indonesia tidak bisa mencapai target mereka untuk mejadi kampiun para turnamen ini. Berikut tiga faktor yang menjadi kegagalan skuat Garuda di ajang Piala AFF Mitsubishi Electric Cup 2022:

Tidak Bergabungnya Pemain Keturunan

Seperti yang telah diketahui bersama jika tidak bergabungnya dua pemain keturunan Sandy Walsh dan Elkan Baggott menjadi salah satu faktor kegagalan Timnas Indonesia di ajang AFF kali ini. Pengalaman dan kemampuan kedua pemain tersebut tentunya akan menambah kekuatan tim Merah Putih.

Terhentinya Kompetisi Liga 1

Salah satu faktor lainnya adalah dihentikannya Liga 1 akibat tragedi Kanjuruhan yang memakan ratusan korba jiwa. Berhentinya kompetisi tentu sangat berpengaruh terhadap mental bermain skuat Garuda.

Cederanya Dimas Drajad

Sosok striker di lini depan Indonesia dapat dikatakan lemah sepanjang turnamen ini. Hal itu terbukti saat banyak peluang yang terbuang sia-sia. Cederanya Dimas Drajad disebut-sebut menjadi salah satu fakto kegagalan Timnas Indonesia di ajang Piala AFF Mitsubishi Electric Cup 2022.

"Shin Tae Yong memang tak sepenuhnya patut disalahkan atas kegagalan timnas di AFF tahun ini. Namun, banyak juga keputusan-keputusan Coach Shin yang patut dipertanyakan. Seperti memanggil M.Rafli dan percaya kepada pemain abroad yang jarang mendapatkan menit bermain diklubnya seperti Egy Maulana," ungkap salah seorang netizen.

Baca Juga: Profil Lee Jae-gun, Pemain Liga Kamboja yang akan Gabung Klub BRI Liga 1

"Entah gimana proses pemilihan pemainnya, tapi emang pemainnya aja yang angin-anginan, apalagi lini depan, tidak ada striker yang bener-bener striker, mengharap naturalisasi, kenapa engga nyetak sendiri? Buat akademi sepakbola yang berkualitas, latih striker yang bener-bener striker, percuma naturalisasi kalau yang dinaturalisasi udah tua, tulangnya udah rapuh, yang seharusnya dirubah bibitnya bukan pelatihnya, lagian sty juga udah lumayan, ibarat taneman siapapun yang manen hasilnya sama aja, beda kalau dirubah dari bibitnya, gimana cara nanamnya, apa pupuknya dll," ujar netizen satunya.

Load More