Dalam uji statistik ditemukan ada dua tokoh cawapres yang bisa membantu menaikkan suara Anies secara signifikan jika diambil sebagai cawapres melawan Ganjar, yakni AHY dan Khofifah.
"Jika Khofifah dipasangkan dengan Anies, punya probabilitas secara signifikan untuk menaikkan suara Anies. Demikian pula AHY, jika dipasangkan dengan Anies, suara Anies punya peluang untuk naik secara signifikan," kata Saiful.
Prabowo Subianto
Untuk Prabowo, sejumlah nama-nama tokoh yang diuji pengaruhnya antara lain adalah Muhaimin Iskandar, Airlangga, Anies, Khofifah, Mahfud MD, dan Puan Maharani.
Dalam variabel kontrol, ditanyakan jika pemilihan presiden dilaksanakan sekarang dan yang maju sebagai calon adalah Prabowo berhadapan dengan Ganjar, siapa yang akan Ibu/Bapak pilih sebagai Presiden? Prabowo mendapatkan suara 38 persen, Ganjar 49 persen, dan belum tahu 13 persen.
Jika Prabowo mengambil Muhaimin sebagai cawapres melawan Ganjar, suara Prabowo menjadi 42 persen dan Ganjar 38 persen. Jika berpasangan dengan Airlangga, suara Prabowo menjadi 42 persen dan Ganjar 44 persen. Jika berpasangan dengan Anies, dukungan pada Prabowo menjadi 44 persen dan Ganjar 36 persen.
Jika berpasangan dengan Khofifah, suara Prabowo menjadi 49 persen dan Ganjar 35 persen. Jika mengambil Mahfud MD sebagai cawapres, suara Prabowo menjadi 39 persen dan Ganjar 44 persen. Jika berpasangan dengan Puan, suara Prabowo menjadi 36 persen dan Ganjar 42 persen.
Dalam uji statistik, semua nama yang coba dipasangkan dengan Prabowo sebagai cawapres melawan Ganjar tidak menaikkan suara Prabowo secara signifikan.
Saiful menyimpulkan bahwa tidak ada nama cawapres sejauh ini yang bisa membantu menaikkan suara Prabowo. Prabowo, kata dia, harus bergantung pada dirinya sendiri untuk mengalahkan Ganjar.
Baca Juga: Dukung UMKM Naik Kelas, Pegadaian dan PNM Gelar Bazar UMKM
Sementara untuk Anies, ada dua nama yang potensial meningkatkan suaranya melawan Ganjar jika dijadikan cawapres. Mereka adalah Khofifah dan AHY. "Kalau calon wakil presiden untuk Anies adalah Khofifah atau AHY, maka ada peluang untuk memperkuat elektabilitas Anies secara signifikan," ujar Saiful.
Saiful melihat indikasi Anies lemah di Jawa Timur. Khofifah sebagai orang yang berpengaruh di Jawa Timur dapat menutupi kekurangan ini. Khofiffah sudah beberapa kali teruji kompetitif dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur.
Selain Khofifah, AHY juga berpotensi menaikkan suara Anies secara signifikan jika diambil sebagai cawapres melawan Ganjar. Alasannya, menurut Saiful, adalah karena AHY tidak bisa dipisahkan dari Demokrat dan lebih khusus dengan SBY.
SBY adalah orang Pacitan, Jawa Timur, dan punya basis yang sangat kuat di wilayah tersebut. Kemenangan Demokrat pada Pileg 2009 sekitar 20 persen dan mengalahkan PDIP, lanjut Saiful, adalah karena dukungan yang sangat kuat dari Jawa Timur. Jawa Timur adalah lumbung suara Demokrat ketika itu.
Khofifah dan AHY memiliki basis yang sama-sama kuat di Jawa Timur. Bedanya, lanjut Saiful, Khofifah kuat di basis santri NU yang ada di wilayah Tapal Kuda. Sebaliknya, SBY atau AHY memiliki basis di wilayah Mataraman.
Mataraman adalah daerah yang secara tradisional dalam studi antropologis disebut sebagai daerah kaum abangan. "Dua tokoh ini, Khofifah dan AHY, bisa mengisi kekurangan Anies," kata Saiful.
Pertanyaannya, lanjut Saiful, siapa di antara keduanya yang kemudian lebih potensial untuk dipertimbangkan menjadi cawapres Anies?
Khofifah, kata Saiful, memang memiliki kekuatan elektoral seperti AHY, tapi dia tidak punya kekuatan politik untuk membangun koalisi. Khofifah bukan tokoh partai yang bisa mengarahkan keputusan partai untuk berkoalisi.
Sementara AHY adalah ketua umum Partai Demokrat. Dan partainya sudah menginginkan agar dia menjadi cawapres Anies. Dan jika Demokrat mencabut dukungan atau keluar dari Koalisi Perubahan, maka koalisi itu akan bubar.
"Di situ kekuatan AHY yang tidak dimiliki oleh Khofifah. AHY punya partai sebagai kekuatan politik yang bisa menggenapi Koalisi Perubahan (yang mendukung Anies sebagai Capres)," ujarnya menambahkan.
Berita Terkait
-
AHY Tegaskan Koalisi Perubahan Solid meski Muncul Koalisi Besar
-
Hasil Survei: AHY Bisa Menaikan Elektabilitas Jika Dipasangkan dengan Anies Baswedan
-
Siapa Jhoni Allen? Eks DPR yang Berani Tuduh SBY-AHY Pungut Ratusan Juta dari Kader
-
Disebut-sebut Akan Kudeta Demokrat, Ternyata Ini Harta Kekayaan Moeldoko
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
Terkini
-
Barcelona Batal Permanenkan Marcus Rashford
-
Borok Investasi Asing Mencuat, Sering Terlantarkan Hak Pekerja
-
Tayang Juni 2026! The Bear Season 5 Soroti Upaya Carmy Selamatkan Restoran
-
Kapolri Jamin Takkan Serobot Kursi ASN: Polisi Masuk Kementerian Hanya Jika Diminta!
-
Rachel/Febi Jadikan Status Juara Bertahan Sebagai Motivasi di Australian Open 2026
-
Mengurai Benang Kusut Gagal Bayar Gaji PPPK: Apakah Dana APBN Bisa Jadi Solusi?
-
5 Lip Serum untuk Atasi Bibir Kering dan Pecah-pecah, Bisa Melembapkan dan Mencerahkan
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Dukung Hari Lingkungan Hidup Sedunia, PT Bhimasena Power Indonesia Siapkan 30 Ribu Bibit Mangrove
-
Film Horor 402: Rumah Sakit Angker Korea Hadirkan Ritual Jelangkung dengan Mantra Berbahasa Korea