Suara.com - Direktur Lingkar Madani, Ray Rangkuti, menyoroti soal berbagai gimik yang dilakukan oleh Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut dua, Gibran Rakabuming Raka saat debat keempat Cawapres. Ia menilai Gibran tak lagi memiliki etika dalam kontestasi politik ini.
Hal ini disebutnya menunjukan Gibran tak lagi bisa dinasihati soal etika.
"Bagaimana mungkin kita bicara etik kepada Gibran sementara etika besar dalam debat itupun dia terobos," ujar Ray kepada wartawan, Rabu (24/1/2024).
Apalagi, Gibran disebutnya sudah menerobos etika dengan memanfaatkan pengubahan syarat menjadi Capres atau Cawapres yang dilakukan di Mahkamah Konstitusi (MK). Putusan ini sudah cacat lantaran adanya pelanggaran etik yang dilakukan eks Ketua MK, Anwar Usman.
"Etika besar itu menyadari bahwa putusan MK yang dinyatakan cacat moral berat atau cacat etik berat tidak layak digunakan oleh Beliau, tetapi ternyata digunakan oleh Beliau," kata pengamat politik itu.
Ia menyebut Gibran bersikap tak beretika karena saat ini sedang di atas angin lantaran memiliki elektabilitas tertinggi. Padahal, dukungan besar ini didapatkan dari ayahnya, Presiden Joko Widodo alias Jokowi.
"Percuma kita bicara etika dengan Gibran. Saat ini dia dalam konteks sedang menang dengan elektabilitas yang tinggi maka muncul arogansi dengan kekuasaannya mereka melakukan kriminalisasi," tuturnya.
Munculnya arogansi tak beretika ini disebutnya memang sudah didukung dengan kondisi pemerintahan saat ini yang condong memihak Gibran. Karena itu, dalam debat Cawapres, Wali Kota Solo itu berulang kali menunjukkan gestur yang tak sesuai dengan adat ketimuran, yakni menjunjung tinggi etika dan sopan santun.
"Gaya yang dilakukan oleh Gibran adalah yang penting menyerang, yang penting ngomong. Soal benar atau tidak isinya tidak terlalu penting selama di dalam forum debat itu bisa disampaikan dengan lancar, dijawab apapun jawabannya, bagi Gibran itu selesai," pungkasnya.
Baca Juga: Jokowi Sebut Presiden Boleh Kampanye dan Memihak di Pemilu, Komarudin PDIP: Bangsa Bisa Runtuh
Berita Terkait
-
Presiden Hingga Menteri Boleh Berpihak, Standar Moral Jokowi Disebut Rendah dan Tak Miliki Etika Demokrasi
-
Soal Statmen Presiden Boleh Berkampanye, Pakar Hukum Nilai Jokowi Ingin Terus Berkuasa
-
Ingatkan Tanggung Jawab, Pengamat Sarankan Mahfud MD Tak Mundur dari Menkopolhukam
-
Jokowi Sebut Presiden Boleh Kampanye dan Memihak di Pemilu, Komarudin PDIP: Bangsa Bisa Runtuh
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Ngaku Lagi di Luar Pulau Jawa, Ridwan Kamil Tidak Hadir Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Besok
-
Paslon Bupati-Wakil Bupati Bogor nomor 2 Pecah Kongsi, Soal Pencabutan Gugatan Sengketa Pilkada ke MK
-
Miris, Warga Bali 'Dibuang' Adat Karena Beda Pilihan Politik
-
Meski Sudah Diendorse di Kampanye, Pramono Diyakini Tak akan Ikuti Cara Anies Ini Saat Jadi Gubernur
-
Pilkada Jakarta Usai, KPU Beberkan Jadwal Pelantikan Pramono-Rano
-
MK Harus Profesional Tangani Sengketa Pilkada, Jangan Ulangi Sejarah Kelam
-
Revisi UU Jadi Prioritas, TII Ajukan 6 Rekomendasi Kebijakan untuk Penguatan Pengawasan Partisipatif Pemilu
-
Menang Pilkada Papua Tengah, Pendukung MeGe Konvoi Keliling Kota Nabire
-
Pasangan WAGI Tempati Posisi Kedua Pilkada Papua Tengah, Siap Tempuh Jalur Hukum ke MK
-
Sah! KPU Tetapkan Pasangan MeGe Pemenang Pilgub Papua Tengah 2024