Suara.com - Ketua Majelis Syura Partai Ummat Amien Rais menyampaikan kritik kepada keluarga Presiden Joko Widodo melalui sebuah video yang diunggah melalui akunnya di Youtube.
Dalam video berjudul “Jokowi Sudah Jadi Beban Nasional!” itu, Amien menyebut Jokowi dan keluarganya memalukan karena sikap politik mereka dalam Pilpres 2024.
“Gibran bodoh memalukan, Kaesang juga sama, ibunya, Iriana juga agak memalukan, menantunya di Medan sami mawon (sama saja),” kata Amien dikutip, Jumat (26/1/2024).
Dia bahkan menyebut Jokowi memiliki ambisi kekuasaan karena pernyataannya yang secara terang-terangan ingin memihak dan berkampanye dalam Pilpres 2024.
Terlebih, putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka menjadi salah satu peserta Pilpres 2024 sebagai calon wakil presiden nomor urut 2.
“Jokowi menampilkan kebodohannya sekaligus ambisi butanya ketika menyatakan di berbagai forum sebagai presiden dia akan berkampanye dan memihak paslon yang ada yaitu ada anak ingusannya (Gibran) sebagai calon wakil presiden,” tutur Amien.
Pernyataan Jokowi itu lanjut dia membuat sebagian besar masyarakat marah dan kecewa. Sebab, dia menilai Jokowi menampilkan sikap yang tidak punya etika dan moral.
“Jokowi sekarang ini sedang dikeroyok oleh sebagian besar anak bangsa yang sudah sangat muak dengan pikiran dan perilaku Pak Jokowi yang sudah tidak punya rasa malu lagi,” tandas dia.
Pernyataan Jokowi
Baca Juga: Mahfud MD Dituding Hina Gibran, TPN Pantau Langkah Bawaslu: Sejauh Mana Laporan Itu Diproses
Presiden Jokowi sebelumnya menyatakan bahwa setiap orang memiliki hak untuk memihak dan berkampanye, termasuk bagi seorang Presiden.
Hal itu ditegaskan Jokowi saat ditanya tanggapannya mengenai menteri yang tidak ada hubungan dengan politik justru jadi tim sukses.
"Hak demokrasi, hak politik setiap orang. Setiap menteri sama saja, presiden itu boleh loh kampanye, boleh loh memihak," kata Jokowi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (24/1/2024).
Meski bisa ikut kampanye, Jokowi menegaskan presiden sekalipun tidak boleh menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan politik atau kampanye.
"Tapi yang paling penting waktu kampanye tidak boleh menggunakan fasilitas negara. Boleh kita ini pejabat publik sekaligus pejabat politik, boleh menteri juga boleh," kata Jokowi.
Hal senada ditegaskan Jokowi menanggapi pertanyaan bagaimana memastikan tidak ada konflik kepentingan pejabat negara yang ikut kampanye.
Berita Terkait
-
Mahfud MD Dituding Hina Gibran, TPN Pantau Langkah Bawaslu: Sejauh Mana Laporan Itu Diproses
-
Puji Cak Imin dan Mahfud MD Usai Debat Lalu Sindir Gibran, Arie Kriting Dihujat Warganet: Pantas Mertuanya Gak Setuju
-
Di Jayapura, Gibran Tegaskan Papua Harus Terus Dibangun dan Tak Boleh Ditinggalkan
-
Sampai di Jayapura, Pasar Pharaa Sentani Jadi Tempat Pertama yang Dikunjungi Gibran
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- 31 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 10 Maret 2026: Sikat Diamond, THR, dan SG Gurun
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- Promo Alfamart dan Indomaret Persiapan Hampers Lebaran 2026, Biskuit Kaleng Legendaris Jadi Murah
Pilihan
-
Indonesia Beli Rudal Supersonik Brahmos Rp 5,9 Triliun! Terancam Sanksi Donald Trump
-
Kronologi Lengkap Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast Militerisme
-
Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
-
Trump Ancam Timnas Iran: Mundur dari Piala Dunia 2026 Kalau Tak Mau Celaka
-
Eksklusif! PowerPoint yang Dibuang Trump Sebabkan Tentara AS Mati
Terkini
-
Ngaku Lagi di Luar Pulau Jawa, Ridwan Kamil Tidak Hadir Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Besok
-
Paslon Bupati-Wakil Bupati Bogor nomor 2 Pecah Kongsi, Soal Pencabutan Gugatan Sengketa Pilkada ke MK
-
Miris, Warga Bali 'Dibuang' Adat Karena Beda Pilihan Politik
-
Meski Sudah Diendorse di Kampanye, Pramono Diyakini Tak akan Ikuti Cara Anies Ini Saat Jadi Gubernur
-
Pilkada Jakarta Usai, KPU Beberkan Jadwal Pelantikan Pramono-Rano
-
MK Harus Profesional Tangani Sengketa Pilkada, Jangan Ulangi Sejarah Kelam
-
Revisi UU Jadi Prioritas, TII Ajukan 6 Rekomendasi Kebijakan untuk Penguatan Pengawasan Partisipatif Pemilu
-
Menang Pilkada Papua Tengah, Pendukung MeGe Konvoi Keliling Kota Nabire
-
Pasangan WAGI Tempati Posisi Kedua Pilkada Papua Tengah, Siap Tempuh Jalur Hukum ke MK
-
Sah! KPU Tetapkan Pasangan MeGe Pemenang Pilgub Papua Tengah 2024