Lebih jauh, masih berdasarkan survei tersebut, potensi dukungan untuk Anies dalam pilkada kali ini cukup signifikan. Lantaran, Anies juga ditopang barisan pemilih yang loyal atau strong voters.
Bahkan apabila Pilkada Jakarta dilakukan pada waktu survei dilaksanakan, diperkirakan 39 persen pemilih menyatakan niatnya memilih Anies.
Beranjak dari survei dan juga hasil Pilkada Jakarta pada Tahun 2012 dan 2017, Pengamat Politik dari The Indonesian Institute Arfianto Purbolaksono mengemukakan bahwa angka golput akan meningkat dibandingkan dari tahun 2017.
Kelelahan dan Kejenuhan
Ia melihat ada dua faktor yang menjadi penyebab utamanya, yakni kelelahan pemilih dalam konteks kontestasi politik.
"Dinamikanya yang cukup tinggi, apalagi di Jakarta. Ada kelelahan juga dari publik apalagi kalau melihatnya di kampanye gitu ya di Pemilu 2024 kemarin," katanya.
Kelelahan yang dirasakan masyarakat juga terkait digelarnya pemilu dan pilkada serentak yang dilakukan bersamaan.
"Ini menjadi catatan, untuk pertama kali kita menggelar hajatan besar, politik elektoral diselenggarakan dalam satu tahun. Pastinya, akan ada kejenuhan yang disebabkan persaingan antarparpol dalam statemennya yang membuat masyarakat menjadi tegang dalam kampanyenya," ujarnya.
Menurutnya, kejenuhan masyarakat terjadi sebelum proses pendaftaran. Sebagai contoh, ketika sebelumnya ada persoalan keputusan MK nomor 90/PUU-XXI/2023 yang membuat Gibran menjadi wakil presiden, menimbulkan kontroversi.
Baca Juga: Hasil Tes Kesehatan Diumumkan Besok, Pram-Rano Bakal Lolos Persyaratan Pilkada Jakarta?
Belum lagi soal nanti dalam pemilu 2024 menimbulkan berbagai macam isu, seperti bansos, kepentingan Jokowi.
"Hal-hal seperti itu yang membuat orang jenuh dan lelah melihat itu. Padahal, masyarakat tidak membayangkan adanya kejenuhan, seperti kemarin Baleg DPR merespons keputusan MK soal pendaftaran calon," ujarnya.
Daya Tarik
Faktor lain yang disoroti Arfianto, yakni daya tarik tokoh yang menjadi tantangan partai nantinya di Pilkada Jakarta. Bila dibandingkan tahun 2017, ada dua faksi besar di Jakarta yang berbasiskan dua tokoh.
"Ada kubunya Ahok dan Anies itu kan militan pendukungnya, mungkin bisa mengamplifikasi dari Pilkada jakarta. Tapi kan (saat ini) dua orang itu nggak ikut, mungkin amplifikasinya itu yang sedikit," ujarnya.
Ia juga mengemukakan dalam pilkada kali ini tidak menemukan adanya daya tarik tokoh sekuat Pilkada 2017.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Mobil Bekas 60 Jutaan Kapasitas Penumpang di Atas Innova, Keluarga Pasti Suka!
- 5 Sepatu Lokal Senyaman Skechers, Tanpa Tali untuk Jalan Kaki Lansia
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Cek Fakta: Viral Ferdy Sambo Ditemukan Meninggal di Penjara, Benarkah?
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
Ngaku Lagi di Luar Pulau Jawa, Ridwan Kamil Tidak Hadir Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Besok
-
Paslon Bupati-Wakil Bupati Bogor nomor 2 Pecah Kongsi, Soal Pencabutan Gugatan Sengketa Pilkada ke MK
-
Miris, Warga Bali 'Dibuang' Adat Karena Beda Pilihan Politik
-
Meski Sudah Diendorse di Kampanye, Pramono Diyakini Tak akan Ikuti Cara Anies Ini Saat Jadi Gubernur
-
Pilkada Jakarta Usai, KPU Beberkan Jadwal Pelantikan Pramono-Rano
-
MK Harus Profesional Tangani Sengketa Pilkada, Jangan Ulangi Sejarah Kelam
-
Revisi UU Jadi Prioritas, TII Ajukan 6 Rekomendasi Kebijakan untuk Penguatan Pengawasan Partisipatif Pemilu
-
Menang Pilkada Papua Tengah, Pendukung MeGe Konvoi Keliling Kota Nabire
-
Pasangan WAGI Tempati Posisi Kedua Pilkada Papua Tengah, Siap Tempuh Jalur Hukum ke MK
-
Sah! KPU Tetapkan Pasangan MeGe Pemenang Pilgub Papua Tengah 2024