Pengamat politik Adi Prayitno mengkritisi sejumlah narasi para calon presiden (pilpres) jelang pemilihan umum (pemilu) 2024 mendatang. Dua narasi yang paling digaungkan adalah perubahan dan keberlanjutan.
Adi menilai, narasi-narasi tersebut belum jelas arahnya. Jika ditelisik lebih dalam, para capres dan partai politiknya hanya sekadar menjual jargon politik saja.
"Ya secara prinsip sebenarnya narasi perubahan ataupun keberlanjutan bagi saya ini tidak lebih dari sebuah jargon sebagai sebuah jualan politik karena kalau kita breakdown dan kita pereteli satu per satu yang mau dilanjutkan apa, yang mau diubah apa, itu belum jelas sampai sekarang," kata Adi, dikutip Liberte Suara, Sabtu (22/7/2023).
Narasi perubahan, contohnya, seperti yang diusulkan oleh capres Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies Baswedan, tidak semua hal harus diubah.
"Di level perubahan ya kan tidak semua hal harus diubah, apa yang dilakukan Jokowi, yang dilakukan oleh SBY, Megawati misalnya sebelumnya. Kalau itu memang melahirkan satu dignity, melahirkan satu berubahan yang cukup signifikan ya enggak perlu diubah," jelasnya.
Sementara narasi keberlanjutan yang dimainkan oleh Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, kata Adi, perlu ada kritik lebih lanjut terhadap apa yang akan dilanjutkan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo sehingga artinya bukan tanpa koreksi.
"Pokoknya apa pun yang sudah dilakukan oleh Jokowi selama 10 tahun itu ingin semuanya dilanjutkan tanpa ada perubahan apa pun secara signifikan. Padahal tidak seperti itu juga," tuturnya.
"Saya kira pada level semangat dan substansi Ganjar Pranowo misalnya atau Prabowo Subianto pastinya akan mencoba untuk mengkoreksi soal apa pun yang di zamannya Jokowi ini biasanya tidak maksimal," sambungnya.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia itu mengusulkan kepada para capres dan koalisinya untuk membuat rincian tentang perubahan dan keberlanjutan yang dimaksud dengan tujuan memberi pemahaman kepada masyarakat.
"Makanya saya selalu ngomong ke teman-teman tim sukses dan para jubir itu, bisa tidak narasi keberlanjutan dan narasi soal bagaimana perubahan itu bisa dibreakdown," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Menaker Sambangi PT Bukit Asam, Tegaskan Pentingnya SDM Unggul dan Keselamatan Kerja
-
Semen Baturaja Buka Suara soal Penetapan Tersangka oleh Kejati Sumsel, Tegaskan Komitmen GCG
-
Prihatin atas Pengunduran Diri Uskup Bogor, Umat Katolik Gelar Aksi di Kedutaan Vatikan
-
Kansas City Diserbu 650 Ribu Fans Piala Dunia 2026, Pemkot Gratiskan Alat Transportasi Publik
-
Mencekam! 9 Fakta Bus Terjun ke Sungai di Tanggamus Saat Lewati Jembatan Gantung
-
Pemprov Sumbar Bongkar Bangunan Langgar RTRW di Batang Anai, Eksekusi Mulai 16 Februari
-
7 Fakta Mengejutkan Penangkapan Dua Oknum TNI di Babel, Diduga Terlibat Pengiriman Timah
-
Kronologi Penerima Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo Tewas Usai Tabrakan di Pacitan
-
BWF Ubah Format Indonesia Open Jadi 11 Hari, PBSI: Kesempatan Emas untuk Pebulu Tangkis
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak