Suara.com - Pada tahun 2012, tata kelola pengairan di Bali atau yang dikenal dengan subak telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia (WBD) oleh UNESCO. Sayang, penetapan ini hingga kini tidak diikuti oleh rencana aksi pengelolaan.
"Tarik ulur antara pemerintah pusat, Pemprov Bali, dan pemkab di Bali mengakibatkan rencana aksi gagal," katanya pengamat pertanian dari Universitas Udayana, Prof I Wayan Windiadi Denpasar, Selasa (27/5/2014).
Ketua Pusat Penelitian Subak Unud itu menjelaskan bahwa pengakuan UNESCO terhadap subak sebagai warisan budaya dunia (WBD) setelah Bali berjuang selama 12 tahun, termasuk usulan rencana aksi pengelolaan diajukan bersamaan dengan proposal permohonan WBD itu.
Pada tahun ini rencananya dibentuk semacam forum dan kucuran dana bantuan Rp100 juta untuk 17 subak yang termasuk dalam WBD. Bahkan Direktur World Heritage Culture (WHC) UNESCO, telah mengirim surat peringatan kepada Dubes RI di Paris dan Wakil Tetap Indonesia di UNESCO tentang tidak adanya aksi nyata di kawasan WBD sebagaimana yang telah dijanjikan dalam proposal.
Untuk itu, Pemerintah Indonesia harus memberikan pertanggunganjawab dalam sidang UNESCO pada tahun 2015. "Ini adalah semacam 'lampu kuning' dari penetapan subak sebagai WBD. Kalau pada tahun 2015 pemerintah tidak mampu memberikan penjelasan yang dapat diterima UNESCO, mungkin risikonya akan sangat memalukan bangsa Indonesia," tegas Prof Windia.
Windia yang aktif mengikuti berbagai diskusi dan lokakarya tentang WBD yang digelar pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menambahkan, tidak mudah memang untuk merealisasikan rencana aksi itu karena hambatan birokrasi.
Kondisi di Bali juga sama, berbagai usul sudah dilakukan agar subak sebagai WBD mendapatkan sentuhan langsung terutama ke-17 subak yang diakui sebagai WBD. Ke-17 subak tersebut terdiri atas 14 subah di kawasan Catur Angga Batukaru Kabupaten Tabanan dan tiga subak di daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan, Kabupaten Gianyar dengan total luas sekitar 1.000 hektare menjadi satu kesatuan telah ditetapkan menjadi WBD. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Industri Maritim Naik Kelas, Digitalisasi Perkuat Layanan Kapal hingga Kepelabuhanan
-
Hari Jadi Ke-81 Jateng: Dari Sawah Jawa Tengah untuk Meja Makan Indonesia
-
Kirab Bendera Sang Merah Putih Dimulai Jam Berapa? Ini Rangkaian Acara HUT RI ke-81
-
Promo Tiket Kereta Api Masih Tersedia, 16.913 Kursi Telah Terjual Hari Ini
-
Peringatan Detik-Detik Proklamasi Dimulai Jam Berapa? Ini Jadwal Resmi Upacara HUT RI ke-81
-
Hari Jadi Ke-81 Jateng: Program Speling, Jarak Tak Lagi Bikin Pusing
-
BRI Tebar Giveaway 500 Tiket Gratis Modinity Warehouse Sale 2026, ini Cara Klaimnya
-
Lindungi Petani demi Kepastian Harga, Wakil Ketua DPRD Jateng: Jangan Biarkan Merugi!
-
Teks Proklamasi untuk Dibacakan di Upacara Peringatan Kemerdekaan HUT RI ke-81
-
BNPB Targetkan Listrik, Air, BBM, dan Komunikasi di Wilayah Gempa NTT Pulih dalam 7 Hari