Suara.com - Ngaben secara awam sering diartikan sebagai tradisi 'pembakaran' mayat yang dilakukan masyarakat Bali. Namun sebenarnya istilah ini tak selamanya tepat.
Karena di kalangan masyarakat Bali, ngaben juga sering disebut dengan kata palebon. Palebon diyakini berasal dari kata lebu yang berarti tanah atau debu. Jadi, ngaben atau palebon adalah sebuah prosesi upacara bagi sang mayat untuk ditanahkan (menjadi tanah).
Dalam hal men-tanah-kan ini masyarakat Hindu Bali mengenal dua cara yakni dengan menguburkannya dan atau membakarnya. Dengan kata lain prosesi pembakaran mayat ada dalam upacara ngaben, tapi ngaben tidak berarti selalu berupa upacara pembakaran mayat. Secara bahasa, kata ngaben berasal dari kata beya yang berarti biaya atau bekal.
Namun dalam pelaksanaannya, ngaben yang merupakan tahap terakhir perjalanan manusia di bumi ini, membutuhkan biaya yang tak sedikit. Sehingga belakangan mulai muncul tradisikan ngaben massal untuk meringankan beban biaya keluarga yang ditinggalkan.
"Meskipun dilakukan dengan massal, ngaben ini tidak mengurangi makna dari upacara yang dilakukan sesuai dengan dasar agama," kata Bupati Jembrana I Putu Artha, saat menghadiri ngaben massal di Desa Adat Warnasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (1/7/2014).
I Putu Artha mendorong masyarakatnya dan mengapresiasi pelaksanaan ngaben massal seperti ini. Sementara ketua Panitia Ngaben Massal di Desa Adat Wanasari, I Ketut Sumerdika, menyebutkan dalam kesempatan ini terdapat 13 keluarga menggelar upacara "ngelungah" (upacara ngaben kecil untuk bayi), empat ngaben (pembakaran jenazah), dan 30 "nyekah" (upacara sebelum ngaben karena belum memiliki biaya).
Untuk upacara tersebut, panitia memungut biaya berbeda-beda, yakni untuk "nyekah" Rp2,5 juta, ngaben Rp2 juta, dan "ngelungah" Rp500 ribu. "Pesertanya tidak hanya dari desa adat sini, tapi juga dari desa adat sekitar. Bahkan ada yang dari Sumbawa dan Sulawesi," katanya.
Saat puncak upacara Senin (30/6/2014) malam, Bupati turut mendoakan seluruh peserta ngaben massal ini dengan ditandai penyerahan dupa kepada masing-masing keluarga. (Antara)
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU
-
Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam