- Rupiah Rabu ini ditutup melemah 0,13% ke level Rp16.780 per dolar AS karena penguatan dolar global.
- Pelemahan dipicu prospek pangkas suku bunga BI dan penantian rilis data ekonomi penting AS-RI.
- Analis prediksi rupiah bergerak di rentang Rp16.700-Rp16.850 menanti data Cadangan Devisa.
Suara.com - Mata uang Garuda belum mampu lepas dari tekanan pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada penutupan pasar Rabu (7/1/2026) berakhir di level Rp16.780 per dolar Amerika Serikat (AS).
Capaian ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,13 persen dibandingkan penutupan hari Selasa yang berada di level Rp16.758. Sejalan dengan itu, kurs referensi Jisdor Bank Indonesia turut menempatkan rupiah pada angka Rp16.785 per dolar AS.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau beragam. Di saat rupiah melemah, Yen Jepang justru menguat 0,10 persen, diikuti Ringgit Malaysia yang melesat 0,62 persen, dan Baht Thailand naik 0,45 persen. Sebaliknya, Peso Filipina dan Won Korea Selatan bernasib serupa dengan rupiah, masing-masing melemah 0,17 persen dan 0,03 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS secara global menjadi faktor utama yang menekan mata uang regional. Namun, bagi Indonesia, terdapat sentimen lokal spesifik yang turut membebani.
“Rupiah masih tertekan oleh prospek pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI). Investor juga mewaspadai rilis data-data ekonomi penting dari AS dan Indonesia beberapa hari ke depan,” ujar Lukman saat dihubungi.
Pasar saat ini dalam posisi wait and see menunggu rilis data Cadangan Devisa (Cadev) Indonesia dan tingkat kepercayaan konsumen. Lukman memprediksi tren pelemahan rupiah masih akan bertahan setidaknya hingga data ekonomi tersebut dirilis.
Jika data domestik menunjukkan hasil yang positif, rupiah berpeluang mendapatkan napas baru untuk menguat. "Range pergerakan rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.850," pungkasnya.
Pelemahan ini menjadi pengingat bagi para pelaku pasar untuk tetap waspada terhadap volatilitas eksternal dan kebijakan moneter domestik di awal tahun 2026.
Baca Juga: Rupiah Masih Loyo, Cek Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA Hari Ini
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
File APK Berkedok Undangan Kuras Rekening di Batang, Pakar: Nasabah Harus Lebih Awas
-
Viral Alumni LPDP Tolak Anak WNI, Purbaya: 20 Tahun Lagi Dia Nyesel!
-
Bank Mandiri Awali 2026 dengan Fundamental Solid, Perkuat Ekonomi Kerakyatan
-
Cara Tukar Uang Baru di PINTAR BI untuk THR Lebaran 2026, Ini Ketentuannya
-
Laporan Keuangan Bank Mandiri (BMRI) Awal Tahun 2026, Nilai Aset Naik Drastis
-
Dilema Minyak Mentah: Tensi AS-Iran Mereda, Namun Tarif Trump Menekan Harga
-
Cabai Rawit Masih Tinggi, Harga Pangan Nasional Mulai Turun Bertahap
-
Langkah Mudah Gabung NPWP Suami Istri Lewat Coretax agar SPT Lebih Praktis
-
Emas Antam Semakin Mahal, Harganya Tembus Rp 3.028.000/Gram
-
Lippo Malls Agresif Ekspansi Bisnis pada 2026, Kembangkan Pusat Perbelanjaan di Lampung